📍 Extreme Ownership Part 3 – Building Ownership in the Modern Workplace

🎯 Tujuan: Memberikan arah praktis & actionable insight tentang bagaimana ownership bisa dihidupkan dalam konteks kerja modern yang serba cepat, digital, dan penuh ketidakpastian.

1. Tren Modern & Konektivitas Ownership

Ownership bukan sekadar konsep klasik kepemimpinan. Di era modern, ia harus dikaitkan langsung dengan tren besar yang mengubah cara kita bekerja. Ada empat tren utama:

A. Agile Leadership → Keputusan Cepat, Aksi Adaptif

  • Konteks:
    Dunia kerja bergerak dengan kecepatan tinggi. Strategi lima tahun sering usang dalam satu tahun. Dalam kondisi ini, ownership di level pemimpin berarti berani bertindak cepat meskipun data belum sempurna.
  • Prinsip inti:
    • Fail fast, learn fast, adjust fast.
    • Pemimpin memberi ruang bagi tim untuk membuat keputusan sendiri (empowerment).
  • Data: Menurut McKinsey (2020), organisasi dengan praktik agile memiliki peluang 1,5 kali lebih besar untuk outperform kompetitor dalam revenue growth.
  • Contoh praktik:
    • Squad dalam kerangka agile framework diberi decision rights untuk mengeksekusi cepat tanpa harus menunggu rantai hirarki panjang.
    • Seorang product manager berani merilis fitur beta, lalu segera memperbaiki dari feedback pengguna.

B. Psychological Safety → Aman untuk Mencoba & Belajar

  • Konteks:
    Tanpa rasa aman, ownership hanya slogan. Orang takut mengakui kesalahan dan memilih bermain aman. Padahal, kepemilikan lahir ketika setiap orang merasa aman untuk speak up dan mencoba hal baru.
  • Prinsip inti:
    • Budaya “blameless” → fokus ke learning, bukan punishment.
    • Mendorong keberanian untuk berkata: “It was my mistake, here’s how I’ll fix it.”
  • Data: Studi Google Project Aristotle (2015) menemukan psychological safety adalah faktor nomor satu dari tim dengan performa tinggi.
  • Contoh praktik:
    • Blameless post-mortem di tim teknologi → setelah error, tim membahas akar masalah tanpa mencari kambing hitam.
    • Seorang manajer memuji anggota tim yang berani mengakui kesalahan sebagai contoh ownership positif.

C. Hybrid Workforce → Ownership sebagai Pendorong Produktivitas Jarak Jauh

  • Konteks:
    Era hybrid/remote membuat kontrol langsung pemimpin berkurang. Karyawan tidak bisa lagi diukur hanya dari jam hadir. Ownership menjadi “mesin penggerak” produktivitas jarak jauh.
  • Prinsip inti:
    • Trust → Empower → Measure outcome.
    • Fokus pada hasil, bukan aktivitas.
  • Data: Menurut Harvard Business Review (2021), perusahaan yang mengadopsi budaya ownership pada remote team mengalami kenaikan produktivitas hingga 35% lebih tinggi dibanding yang masih berbasis kontrol tradisional.
  • Contoh praktik:
    • Penerapan OKR (Objectives & Key Results) → mengukur pencapaian nyata, bukan berapa lama online di Zoom.
    • Tim global perusahaan teknologi menetapkan jam kerja fleksibel, namun menuntut komitmen penuh pada delivery timeline.

D. Digital Disruption & AI → Ownership Mengarahkan Teknologi

  • Konteks:
    Teknologi adalah alat, bukan arah. Ownership memastikan bahwa digitalisasi, AI, atau big data tidak hanya jadi “proyek hype”, melainkan menghasilkan nilai nyata.
  • Prinsip inti:
    • Teknologi tanpa ownership = sekadar eksperimen mahal.
    • Ownership menghubungkan inovasi dengan customer value dan business impact.
  • Data: Deloitte (2022) melaporkan, 70% inisiatif digital transformation gagal karena kurangnya ownership yang jelas dalam implementasi.
  • Contoh praktik:
    • Perusahaan retail menggunakan AI untuk personalisasi belanja. Namun, accountability tetap di tangan manajer produk untuk memastikan relevansi terhadap pelanggan.
    • Startup logistik memanfaatkan big data untuk optimasi rute, tetapi kepemimpinan ownership menjaga agar data dipakai sesuai etika dan kebutuhan pelanggan.

Tren modern hanya bisa memberi keunggulan jika dikaitkan dengan ownership. Agile tanpa ownership hanya jadi jargon. Psychological safety tanpa ownership hanya jadi retorika. Hybrid workforce tanpa ownership = chaos. Dan digital disruption tanpa ownership = hype tanpa arah.

2. Praktikal & Aksi – Ownership dalam Tindakan Sehari-Hari

Ownership bukanlah konsep abstrak; ia nyata dalam sikap, kebiasaan, dan keputusan sehari-hari. Tiga langkah berikut adalah cara konkret membangun budaya ownership di organisasi modern.

A. Mulai dari Diri Sendiri → Role Model

Mengapa penting?

  • Ownership tidak bisa dipaksakan ke tim; ia ditularkan lewat keteladanan.
  • Pemimpin yang berani mengakui kesalahan menciptakan iklim keterbukaan dan kepercayaan.

Prinsip inti:

  • Walk the talk → tim hanya percaya jika pemimpin konsisten antara kata dan tindakan.
  • Vulnerability is strength → pemimpin yang mau terbuka tentang kesalahannya justru memperkuat budaya tanggung jawab.

Praktik nyata:

  1. Publik akui kesalahan di rapat tim
    • Alih-alih menyalahkan bawahan, leader bisa berkata:

“Keterlambatan proyek ini tanggung jawab saya karena tidak memberi arahan yang cukup jelas.”

  1. Dampaknya: tim belajar bahwa kesalahan bukan untuk ditutupi, tapi dimiliki dan diperbaiki.
  2. Ceritakan lesson learned dari pengalaman pribadi
    • Setiap kesalahan punya nilai belajar. Saat pemimpin membagikan kisahnya, tim melihat bahwa kegagalan bukan akhir, tapi proses.
    • Contoh: Seorang direktur berbagi cerita kegagalan merger sebelumnya dan apa yang dipelajari darinya.
  3. Tindakan kecil tapi konsisten
    • Tepat waktu dalam rapat → menunjukkan disiplin.
    • Menyelesaikan janji pribadi sebelum menuntut tim melakukan hal yang sama.
    • Menggunakan kata “kita” alih-alih “kalian” untuk menunjukkan sense of collective responsibility.

B. Bangun Komunikasi yang Jelas → Clarity sebelum Eksekusi

Mengapa penting?

  • Banyak kegagalan eksekusi bukan karena niat buruk, melainkan karena arah yang kabur.
  • Ownership membutuhkan clarity → orang hanya bisa bertanggung jawab penuh jika tahu dengan jelas apa tujuan dan batasannya.

Prinsip inti:

  • Mission first, ego second → semua anggota harus tahu tujuan utama dan rela menyingkirkan ego demi misi.
  • Clarity before speed → kecepatan hanya bermakna jika arahnya tepat.

Toolset praktis:

  1. One-page mission brief sebelum proyek dimulai
    • Berisi: tujuan utama, indikator keberhasilan, peran tim, timeline, dan risiko utama.
    • Dengan dokumen singkat ini, semua anggota tahu arah yang sama.
  2. Ritme komunikasi yang terstruktur
    • Daily stand-up meeting: update singkat status, hambatan, rencana hari ini.
    • Weekly sync: review progress terhadap target outcome, bukan sekadar aktivitas.
    • Monthly reflection: evaluasi apa yang berhasil, apa yang gagal, apa yang bisa diubah.
  3. Bahasa komunikasi yang lugas
    • Hindari jargon yang membingungkan.
    • Gunakan “SMART goal” → Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound.

Contoh nyata:

  • Sebuah tim marketing yang sebelumnya bingung dengan instruksi “buat kampanye kreatif,” akhirnya lebih fokus saat mendapat brief:

“Target: meningkatkan engagement Instagram 20% dalam 3 bulan lewat konten video interaktif dan kampanye user-generated content.”

C. Desentralisasi Tanggung Jawab → Empowerment untuk Semua Level

Mengapa penting?

  • Ownership bukan monopoli pemimpin → setiap anggota organisasi harus punya ruang untuk mengambil keputusan sesuai perannya.
  • Desentralisasi meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki yang lebih kuat.

Prinsip inti:

  • Trust over control → pemimpin memberi kepercayaan lebih daripada sekadar kontrol berlapis.
  • Empowerment bukan sekadar delegasi → delegasi berarti memberi tugas, sedangkan empowerment berarti memberi kuasa penuh untuk menyelesaikan tugas dengan caranya.

Contoh praktik nyata:

  1. Call center diberi otoritas memberi kompensasi kecil
    • Misalnya diskon 10% atau voucher Rp50.000 tanpa harus meminta persetujuan manajer.
    • Hasil: masalah pelanggan bisa selesai cepat, kepuasan meningkat, dan karyawan merasa dipercaya.
  2. Tim lapangan diberi budget inisiatif kecil
    • Tim sales atau NGO lapangan diberi dana mikro (misalnya Rp5 juta per bulan) untuk memperbaiki proses atau mencoba pendekatan baru.
    • Hasil: muncul banyak inovasi yang tidak harus menunggu birokrasi pusat.
  3. Peer decision-making
    • Keputusan sehari-hari tidak selalu menunggu persetujuan atasan.
    • Contoh: tim proyek startup bisa memutuskan perubahan minor pada fitur aplikasi setelah diskusi internal, lalu melapor ke manajer sebagai update, bukan approval request.

Ownership dalam tindakan sehari-hari bukan soal konsep besar, melainkan soal kebiasaan kecil yang konsisten:

  • Pemimpin yang mau bertanggung jawab lebih dulu.
  • Tim yang bekerja dengan arah yang jelas.
  • Organisasi yang berani memberdayakan semua level.

Dengan tiga pilar ini, ownership bukan sekadar jargon, tapi budaya kerja nyata.

3. Mengikat Narasi

Penutup ini berfungsi sebagai jembatan emosional dan intelektual: dari konsep dan praktik ke dorongan aksi nyata.

A. Merangkai Benang Merah

  1. Ownership adalah missing link
    • Banyak organisasi sudah punya strategi canggih, teknologi terbaru, dan struktur modern. Namun, mereka tetap gagal mengeksekusi dengan konsisten.
    • Kenapa? Karena satu hal hilang: ownership.
  2. Tanpa ownership, enabler jadi lumpuh
    • Strategi tidak jalan → karena orang tidak merasa bertanggung jawab untuk menghidupkannya.
    • Teknologi jadi mainan → karena tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab memastikan dampaknya.
    • Struktur jadi birokrasi → karena peran hanya dijalankan sekadar formalitas, bukan kepemilikan.
  3. Dengan ownership, keterbatasan jadi peluang
    • Sejarah membuktikan: banyak organisasi kecil dengan sumber daya minim bisa mengalahkan kompetitor besar karena mereka punya budaya ownership yang kuat.
    • Ketika orang merasa memiliki, mereka bergerak lebih cepat, lebih berani mengambil keputusan, dan lebih konsisten melangkah.

👉 Pesannya jelas: ownership adalah faktor pengali yang menentukan apakah organisasi hanya berjalan di tempat, atau benar-benar melompat maju.

B. Menggetarkan Imajinasi

“Di masa depan, pemenang bukan organisasi yang paling pintar, tapi yang paling berani mengambil ownership.”

Kalimat ini menegaskan bahwa masa depan bukan milik mereka yang sekadar pintar membuat strategi di atas kertas, melainkan milik mereka yang berani mengambil tanggung jawab penuh atas misi, keputusan, dan eksekusi.

C. Dari Inspirasi ke Aksi

Untuk mengikat audiens, beri mereka langkah kecil yang bisa langsung dilakukan:

  1. Mulailah dari hal paling sederhana minggu ini
    • Akui satu kesalahan di depan tim, tanpa menyalahkan orang lain.
    • Perbaiki satu proses kerja yang selama ini diabaikan, tanpa menunggu perintah.
    • Ajak tim membuat satu komitmen outcome bersama, bukan sekadar daftar tugas.
  2. Jadikan ownership sebagai kebiasaan, bukan momen sesaat
    • Ownership tidak lahir dari seminar satu kali atau slogan di dinding kantor.
    • Ia lahir dari praktik harian: konsistensi kecil yang terus menular dari individu ke tim, dari tim ke organisasi.

Ownership bukan teori manajemen semata. Ia adalah mindset dan budaya yang bisa membedakan antara organisasi yang hanya bertahan, dengan organisasi yang benar-benar melesat.

Dan pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukanlah:

“Siapa yang paling pintar?”
Melainkan:
“Siapa yang berani benar-benar mengambil ownership?”

📌 Dengan struktur ini, Part 3 tidak hanya menutup seri, tapi juga memberi arah implementasi nyata yang bisa langsung dipraktikkan oleh individu, tim, maupun organisasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *