
Leadership development kini menjadi agenda utama bagi organisasi besar, pemerintahan, maupun lembaga profesional di tahun 2025. Dinamika bisnis global, transformasi digital, dan tekanan kompetisi membuat organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu beradaptasi cepat, berpikir strategis, serta memiliki ketangguhan emosional. Namun, banyak inisiatif pengembangan kepemimpinan yang gagal memberikan dampak nyata karena terjebak pada kesalahan mendasar.
Artikel ini membahas tiga kesalahan yang paling sering terjadi dalam leadership development, disertai tips terbaik yang dapat diadopsi untuk menciptakan program yang lebih efektif, relevan, dan berkelanjutan.
Kesalahan 1: Mengabaikan Konteks Nyata Organisasi
Banyak program kepemimpinan dirancang generik, seolah dapat diterapkan sama di semua organisasi. Akibatnya, peserta merasa pembelajaran tidak relevan dengan tantangan kerja mereka. McKinsey mencatat bahwa program pelatihan yang tidak dikaitkan langsung dengan proyek bisnis hanya menghasilkan pengetahuan sesaat tanpa perubahan perilaku yang mendalam.
Solusi dan tips terbaik:
Integrasikan pembelajaran dengan proyek strategis nyata. Misalnya, peserta diberi mandat untuk memimpin inisiatif lintas unit yang berkaitan dengan target bisnis. Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga wadah untuk menciptakan dampak langsung bagi organisasi.
Kesalahan 2: Evaluasi Hanya Mengukur Kepuasan Peserta
Seringkali program dianggap berhasil hanya karena peserta merasa puas dengan materi dan fasilitator. Padahal, kepuasan bukanlah indikator keberhasilan kepemimpinan. Tanpa evaluasi jangka panjang, organisasi tidak mengetahui apakah perilaku pemimpin benar-benar berubah atau memberi kontribusi pada kinerja tim.
Solusi dan tips terbaik:
Gunakan metode penilaian menyeluruh seperti 360-degree feedback, evaluasi dari atasan langsung, hingga analisis perkembangan karier. Lakukan pengukuran tidak hanya setelah program selesai, tetapi juga enam hingga dua belas bulan kemudian. Hal ini akan menunjukkan apakah keterampilan baru benar-benar tertanam dalam praktik sehari-hari.
Kesalahan 3: Fokus pada Keterampilan Teknis, Mengabaikan Mindset
Pemimpin tidak hanya dituntut menguasai teknik manajerial, tetapi juga pola pikir yang sehat dan konstruktif. Banyak program berhenti pada aspek teknis, seperti manajemen proyek atau negosiasi, tanpa menyentuh hambatan internal berupa rasa takut delegasi, kebutuhan kontrol penuh, atau bias keputusan. Akibatnya, perilaku baru sulit terinternalisasi.
Solusi dan tips terbaik:
Fasilitasi sesi reflektif yang mendorong eksplorasi pola pikir. Diskusi tentang hambatan psikologis dan dinamika emosional perlu menjadi bagian dari program. Perubahan mindset yang sehat akan menjadi fondasi bagi keterampilan teknis yang diajarkan, sehingga menghasilkan perilaku yang konsisten dan berkelanjutan.
Kesalahan 4: Menggunakan Pendekatan “Satu Ukuran untuk Semua”
Organisasi kadang menyamaratakan kebutuhan pemimpin, baik level junior maupun senior, dengan memberikan kurikulum yang sama. Akibatnya, peserta tidak merasa diperhatikan secara personal dan materi menjadi kurang relevan dengan posisi mereka.
Solusi dan tips terbaik:
Sesuaikan program dengan tingkat tanggung jawab, pengalaman, dan gaya belajar peserta. Seorang pemimpin baru membutuhkan dasar komunikasi dan pengelolaan tim, sementara eksekutif senior lebih membutuhkan kemampuan strategic foresight dan pengambilan keputusan kompleks. Pendekatan yang dipersonalisasi akan mempercepat penguasaan kompetensi.
Kesalahan 5: Minimnya Keterlibatan Pimpinan Senior
Program kepemimpinan sering berjalan tanpa dukungan nyata dari manajemen puncak. Hal ini membuat peserta menganggap program hanya formalitas dan bukan prioritas strategis. Tanpa contoh dari pimpinan senior, semangat belajar cepat meredup.
Solusi dan tips terbaik:
Libatkan eksekutif senior sebagai role model, mentor, atau fasilitator dalam sesi tertentu. Kehadiran mereka bukan hanya memberikan legitimasi, tetapi juga menginspirasi peserta bahwa pembelajaran kepemimpinan adalah perjalanan jangka panjang yang dihargai organisasi.
Pengembangan kepemimpinan yang efektif di tahun 2025 tidak dapat hanya mengandalkan kurikulum baku atau kepuasan sesaat. Ia membutuhkan strategi yang terhubung langsung dengan realitas organisasi, diukur dengan indikator jangka panjang, serta memperhatikan dimensi mindset dan personalisasi. Selain itu, keterlibatan aktif manajemen puncak menjadi katalis yang memperkuat keberhasilan.
Dengan menghindari lima kesalahan umum di atas dan mengadopsi tips terbaik yang sudah terbukti, organisasi dapat membangun pipeline pemimpin yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara emosional, relevan dengan tantangan, dan mampu membawa organisasi menuju keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Referensi
- McKinsey & Company. Why Leadership Development Programs Fail. 2024.
- Harvard Business Review. The Future of Leadership Development. 2023.
- Deloitte Insights. Global Human Capital Trends 2025.
- Forbes. Leadership Development Is Broken Because We’re Asking the Wrong People If It’s Working. 2025.
- The L&D Academy. 6 Common Mistakes in Leadership Development. 2024.
