
Kepemimpinan di tahun 2025 tidak lagi cukup hanya diukur dari kemampuan mengatur tim atau mencapai target kinerja jangka pendek. Di tengah kompleksitas bisnis global, perubahan regulasi, disrupsi teknologi, dan pergeseran nilai tenaga kerja muda, kepemimpinan efektif ditentukan oleh sejauh mana seorang eksekutif mampu membangun kebiasaan (habit) yang konsisten, terukur, dan berdampak jangka panjang.
Artikel ini menguraikan satu framework penting bernama Seven Habits Framework for Executive Leadership 2025, yang dikembangkan berdasarkan temuan dari riset Harvard Business Review, Deloitte, Forbes, dan studi empiris kepemimpinan di Asia Tenggara. Framework ini menyoroti tujuh kebiasaan strategis yang saling berhubungan dan menjadi pondasi bagi pengembangan eksekutif di perusahaan besar, lembaga publik, maupun UMKM.
1. Kebiasaan Visi Jangka Panjang: Menentukan Arah yang Jelas
Pemimpin yang efektif selalu memulai dari akhir yang ingin dicapai. Mereka memiliki strategic foresight dan kemampuan membaca arah perubahan pasar. Menurut Harvard Business Publishing (2025), pemimpin dengan visi yang jelas cenderung membuat keputusan yang lebih konsisten terhadap nilai dan misi organisasi.
Contoh pada UMKM:
Seorang pemilik usaha kopi di Bandung menetapkan visi lima tahun untuk menjadikan bisnisnya sebagai “pusat pelatihan petani kopi berkelanjutan”. Visi tersebut menjadi dasar dalam setiap keputusan ekspansi, perekrutan, dan kolaborasi.
Langkah awal:
Tuliskan pernyataan visi maksimal dua kalimat yang menggambarkan arah lima tahun ke depan. Pastikan seluruh keputusan harian dapat ditelusuri kembali pada pernyataan tersebut.
2. Kebiasaan Empati dan Komunikasi yang Terhubung
Kepemimpinan masa depan menuntut keseimbangan antara rasionalitas dan kemanusiaan. Pemimpin yang berempati dapat membangun rasa aman psikologis di tempat kerja, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja tim hingga 25 persen (Deloitte, 2025).
Contoh pada UMKM:
Manajer toko kerajinan di Yogyakarta rutin membuka sesi refleksi mingguan dengan karyawan untuk mendengarkan ide dan kendala mereka. Pendekatan ini menurunkan konflik internal dan meningkatkan loyalitas.
Langkah awal:
Sediakan waktu mendengarkan aktif setiap minggu, tanpa interupsi. Ajukan pertanyaan sederhana seperti “Apa hal terbaik yang terjadi minggu ini?” dan “Bagaimana perusahaan dapat mendukung Anda lebih baik?”
3. Kebiasaan Kelincahan Strategis (Strategic Agility)
Lingkungan bisnis 2025 ditandai oleh volatilitas yang tinggi. Pemimpin yang tangkas mampu meninjau ulang strategi dengan cepat tanpa kehilangan arah utama. Riset Forbes (2025) menunjukkan bahwa organisasi dengan pemimpin yang tangkas memiliki peluang 1,7 kali lebih besar bertahan dalam krisis pasar.
Contoh pada UMKM:
Pemilik toko busana di Surabaya segera mengalihkan penjualan ke platform digital ketika terjadi perubahan tren belanja daring. Keputusan cepat ini menyelamatkan arus kas perusahaan selama penurunan permintaan offline.
Langkah awal:
Lakukan evaluasi strategi setiap dua minggu. Tanyakan: “Apa yang berubah di pasar?” dan “Apakah arah strategi kita masih relevan?” Gunakan jawaban itu untuk menyesuaikan tindakan taktis.
4. Kebiasaan Pembelajaran Lintas Fungsi
Kepemimpinan efektif membutuhkan wawasan lintas departemen. Pemimpin yang memahami interaksi antara pemasaran, keuangan, dan operasional akan mengambil keputusan yang lebih menyeluruh. McKinsey (2024) menegaskan bahwa 78 persen perusahaan dengan pemimpin lintas fungsi menunjukkan pertumbuhan produktivitas lebih cepat dibanding struktur yang terkotak.
Contoh pada UMKM:
Seorang direktur usaha katering di Semarang menjalankan rotasi mini antarbagian setiap bulan. Ia menghabiskan sehari bersama tim logistik dan sehari di dapur produksi untuk memahami rantai pasok secara utuh.
Langkah awal:
Tentukan dua fungsi bisnis yang jarang Anda dalami, lalu jadwalkan “hari observasi” di tiap fungsi tersebut. Catat tiga hal yang Anda pelajari dan identifikasi satu kebijakan yang bisa diperbaiki.
5. Kebiasaan Coaching dan Pemberdayaan
Pemimpin besar membangun pemimpin lain. Dalam riset Gallup (2024), organisasi yang menerapkan budaya coaching mengalami peningkatan retensi karyawan hingga 32 persen. Coaching menumbuhkan kepercayaan dan tanggung jawab pribadi anggota tim.
Contoh pada UMKM:
Pemilik toko roti di Malang membentuk program “coaching 1-on-1” untuk setiap supervisor. Dalam tiga bulan, kualitas komunikasi meningkat, dan kesalahan produksi menurun signifikan.
Langkah awal:
Pilih satu anggota tim untuk Anda bimbing secara konsisten selama tiga bulan. Fokus pada pertanyaan reflektif seperti “Apa hasil terbaik yang ingin Anda capai?” dan “Apa satu langkah realistis minggu ini?”
6. Kebiasaan Ketahanan dan Pemeliharaan Diri (Resilience and Self-Care)
Pemimpin adalah pusat energi organisasi. Jika energi mereka menurun, tim akan merasakannya. Studi dari Daveschoenbeck Leadership Research (2025) menunjukkan bahwa 40 persen perilaku kepemimpinan dipengaruhi oleh rutinitas pribadi yang berulang.
Contoh pada UMKM:
CEO bisnis furnitur di Bali mempraktikkan kebiasaan refleksi pagi selama 15 menit. Ia mencatat tiga hal yang disyukuri dan dua hal yang ingin diperbaiki. Kebiasaan ini menjaga fokus dan kestabilan emosional.
Langkah awal:
Terapkan satu rutinitas harian sederhana, misalnya olahraga ringan 20 menit atau jurnal reflektif. Lakukan selama 21 hari berturut-turut untuk membentuk pola mental positif.
7. Kebiasaan Pembelajaran Berkelanjutan (Continuous Learning)
Di dunia yang terus berubah, pembelajaran bukan pilihan, melainkan keharusan. Pemimpin yang berkomitmen pada lifelong learning memiliki kapasitas adaptasi lebih tinggi. World Economic Forum (2025) menyebutkan bahwa pemimpin yang membaca minimal satu buku per bulan memiliki tingkat inovasi 25 persen lebih tinggi dibanding yang tidak.
Contoh pada UMKM:
Pemilik usaha kreatif di Denpasar rutin mengikuti pelatihan digital marketing dan membagikan hasil belajarnya kepada tim setiap minggu. Hal ini menciptakan budaya belajar kolektif di organisasi kecilnya.
Langkah awal:
Rancang rencana pembelajaran pribadi selama enam bulan ke depan. Tentukan topik yang relevan, sumber belajar yang kredibel, dan jadwal praktik nyata setiap minggu.
Kepemimpinan efektif di tahun 2025 tidak hanya dibangun melalui strategi besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dijalankan secara konsisten. Tujuh kebiasaan dalam framework ini bukan sekadar teori, melainkan sistem pengembangan diri yang terbukti relevan bagi eksekutif, manajer menengah, maupun pemimpin UMKM.
Dengan menerapkan visi jangka panjang, komunikasi empatik, kelincahan strategi, pembelajaran lintas fungsi, coaching, ketahanan pribadi, dan pembelajaran berkelanjutan, perusahaan Indonesia dapat melahirkan generasi pemimpin yang berkarakter kuat, adaptif, dan manusiawi. Kepemimpinan seperti inilah yang menjadi fondasi keberlanjutan bisnis nasional di era transformasi 2025.
Referensi
- Harvard Business Publishing Corporate Learning. (2025). The Ladder of Inference: Building Self-Awareness to Be a Better Human-Centered Leader. Harvard Business Review.
- Forbes. (2025). 6 Leadership Habits to Thrive in Chaos, According to an IBM CEO Study.
- Deloitte Insights. (2025). The Human-Centered Leader: Building Empathy and Trust in Dynamic Organizations.
- McKinsey & Company. (2024). The Cross-Functional Advantage in Leadership Transformation.
- Gallup. (2024). State of the Global Workplace Report.
- Dave Schoenbeck Leadership Research. (2025). Developing a Culture of Leadership Habits.
- World Economic Forum. (2025). Future of Jobs and Leadership Skills Outlook 2025.
