✨ Time & Energy Management PART 1 –

BEYOND TIME: Mengapa Manajemen Waktu Saja Tidak Lagi Cukup untuk SDM Masa Kini

Bayangkan Anda memiliki karyawan atau anggota tim yang rajin datang pagi, kalendernya padat, selalu terlihat sibuk… tapi hasil kerjanya biasa saja.
Sebaliknya, ada satu orang yang tampak “tenang”, hanya fokus pada beberapa hal, tapi hasil kerjanya berkualitas dan konsisten.

Di era kerja modern, kita mulai menyadari satu hal penting:
Kesibukan tidak sama dengan produktivitas.

🔍 Kenapa Kita Perlu Menggeser Fokus dari Waktu ke Energi?

Selama ini, kita diajarkan untuk mengelola waktu—membuat to-do list, menjadwalkan rapat, dan mengisi kalender. Namun, semakin banyak organisasi menyadari bahwa pengelolaan waktu tanpa pengelolaan energi justru membawa kelelahan, burnout, dan hilangnya makna kerja.

Menurut laporan Gallup (2023), 75% karyawan melaporkan merasa kelelahan secara emosional dan mental, terutama di lingkungan kerja hybrid dan digital yang tak mengenal batas waktu.

💬 “You can’t manage time. You can only manage your energy.”
— Michael Hyatt

Pernyataan ini terdengar sederhana, tapi sangat dalam. Waktu adalah sumber daya tetap—24 jam sehari untuk semua orang. Tapi energi adalah variabel, dan di sinilah letak permainan sebenarnya.

🧠 Paradigma Lama vs. Paradigma Baru

Banyak sistem kerja di korporat maupun instansi pemerintah masih berpijak pada paradigma lama:

Paradigma LamaParadigma Baru
Fokus pada jam kerjaFokus pada kapasitas dan kualitas energi
Kalender padat = produktifKalender fokus = hasil optimal
Multitasking = kompetensiMultitasking = penurunan performa
Sibuk = hebatFokus = efektif

💬 “Productivity is no longer about time management. It’s about energy management.”
— Tony Schwartz, The Power of Full Engagement

🧩 Apa Itu Manajemen Energi?

Dalam buku The Power of Full Engagement, Schwartz & Loehr menjelaskan bahwa manusia memiliki empat jenis energi:

  1. Fisik – stamina, istirahat, nutrisi
  2. Emosional – stabilitas dan mood saat kerja
  3. Mental – kemampuan fokus dan konsentrasi
  4. Spiritual – makna dan keterhubungan dengan pekerjaan

Sayangnya, banyak organisasi hanya fokus pada aspek fisik (seperti jam kerja), tapi melupakan tiga dimensi lainnya.

Michael Hyatt kemudian menyempurnakan konsep ini melalui pendekatan seperti:

  • Ideal Week – menyusun jadwal berdasarkan ritme energi
  • Daily Big 3 – memilih 3 hal terpenting setiap hari
  • Energy Zone – mengenali waktu terbaik untuk bekerja dalam kondisi optimal (Green Zone), sedang (Yellow), dan lelah (Red)

🎯 Relevansi untuk HR dan Pimpinan Organisasi

Bagi Anda yang berada di bidang pengembangan SDM, ini adalah saat yang tepat untuk menggeser cara pandang dan strategi.
Manajemen waktu sudah tidak cukup. Kita perlu:

  • Mendesain ulang sistem kerja berbasis energi
  • Mengembangkan pelatihan manajemen diri untuk profesional muda
  • Mendorong kebijakan kerja yang tidak hanya efisien, tapi juga manusiawi

💼 Di banyak organisasi progresif, perubahan ini terbukti meningkatkan retensi, keterlibatan (engagement), dan keseimbangan kerja-hidup.

Salah satu contoh nyata:
Sebuah perusahaan teknologi Asia menerapkan konsep “energy-based scheduling” selama 6 bulan. Hasilnya:

  • Tingkat burnout menurun 27%
  • Retensi talenta muda meningkat 15%
  • Kepuasan kerja meningkat signifikan

💬 Jadi, Apa Langkah Pertama?

Langkah pertama bukan mengubah semua hal besar. Tapi mulailah dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif berikut ini:

  • Apakah budaya kerja kita menghargai kesibukan atau hasil?
  • Apakah tim kita tahu kapan waktu terbaik mereka untuk bekerja optimal?
  • Apakah sistem HR kita mendukung produktivitas yang sehat?

Jika jawabannya belum jelas, mungkin saatnya untuk meninjau ulang cara kita memandang produktivitas.

🧭 Penutup: Kita Tidak Butuh Lebih Banyak Waktu — Kita Butuh Lebih Banyak Energi

💬 “We don’t need more time. We need more energy to do the right things at the right time.”
— Adapted from Michael Hyatt

Produktivitas masa kini bukan soal berapa jam Anda bekerja, tapi tentang bagaimana Anda mengelola energi untuk hal yang paling bernilai.

Bagi para pengambil keputusan di sektor korporat, pemerintah, dan NGO—ini adalah peluang.
Bukan sekadar meningkatkan efisiensi, tapi membangun budaya kerja berkelanjutan yang menjadikan organisasi Anda sebagai tempat berkembangnya SDM unggul masa depan.

✉️ Ajakannya:

🔍 Ingin mengembangkan pelatihan berbasis pendekatan Time & Energy Management untuk tim Anda?

Saya mengembangkan program pelatihan MSDM yang mengintegrasikan prinsip ini secara strategis—bukan hanya teoritis, tapi aplikatif, relevan, dan berdampak. Mari diskusi, kolaborasi, atau bertukar insight.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *