Peran Kritis Program Pelatihan dan Pengembangan dalam Menekan Angka Turnover

Memasuki tahun 2025, dunia kerja terus mengalami pergeseran yang signifikan. Perubahan cara orang bekerja, meningkatnya tuntutan terhadap makna pekerjaan, serta ekspektasi generasi baru terhadap pertumbuhan pribadi dan profesional membuat tantangan retensi karyawan menjadi semakin kompleks. Dalam kondisi ini, organisasi dituntut untuk tidak hanya mampu merekrut talenta terbaik, tetapi juga memastikan mereka bertahan dan berkembang bersama.
Turnover Bukan Lagi Sekadar Perpindahan Pekerjaan
Data dari Work Institute menunjukkan bahwa lebih dari empat puluh dua persen karyawan yang mengundurkan diri selama dua belas bulan terakhir sebenarnya dapat dicegah. Penyebab utamanya bukan pada masalah kompensasi atau beban kerja, melainkan pada ketiadaan ruang untuk berkembang dan tumbuh secara profesional. Survei dari Gallup pun memperkuat temuan ini. Hanya sepertiga karyawan di seluruh dunia yang merasa benar-benar terlibat dengan pekerjaannya, sementara lebih dari separuh aktif mencari peluang baru.
Turnover yang tinggi berdampak jauh lebih besar dari yang terlihat. Selain biaya rekrutmen dan pelatihan ulang, organisasi juga kehilangan kontinuitas, produktivitas, dan bahkan kepercayaan internal. Di banyak kasus, efek ini merambat hingga ke reputasi perusahaan di mata kandidat potensial. Semakin tinggi tingkat perputaran, semakin sulit pula membangun budaya kerja yang stabil dan kolaboratif.
Mengurai Akar Masalah Retensi
Jika ditelusuri lebih dalam, terdapat tiga faktor utama yang mendorong karyawan untuk berpindah. Pertama adalah ketiadaan jalur pengembangan karir yang jelas. Banyak organisasi belum memiliki sistem yang membantu karyawan melihat masa depan mereka secara konkret di dalam perusahaan. Kedua adalah lemahnya hubungan antara karyawan dan manajer langsung. Kualitas kepemimpinan sangat memengaruhi tingkat keterlibatan dan loyalitas. Ketiga adalah minimnya investasi dalam pembelajaran berkelanjutan. Studi dari Proten International menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh karyawan akan bertahan lebih lama apabila mereka diberikan akses untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Di sisi lain, laporan LinkedIn Learning mengungkap bahwa hanya sebagian kecil organisasi yang secara konsisten menyusun program pengembangan berbasis kebutuhan karyawan dan tuntutan bisnis. Hal ini menciptakan kesenjangan antara harapan individu dan prioritas perusahaan, yang pada akhirnya berujung pada frustrasi dan keinginan untuk mencari tempat kerja yang lebih suportif.
Bila Diabaikan, Dampaknya Sistemik
Konsekuensi dari retensi yang buruk tidak berhenti pada angka. Ketika seorang karyawan pergi, yang hilang bukan hanya orangnya, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, serta hubungan yang telah dibangun selama ini. Di lingkungan kerja yang mengandalkan kolaborasi lintas fungsi, kehilangan satu talenta kunci dapat mengganggu kinerja satuan kerja secara keseluruhan.
Lebih jauh lagi, disengagement yang timbul dari ketidakpuasan terhadap pengembangan diri memberikan dampak pada skala makro. Menurut Gallup, kerugian produktivitas global akibat rendahnya keterlibatan karyawan diperkirakan mencapai lebih dari delapan triliun dolar Amerika setiap tahunnya. Angka ini menggambarkan betapa mahalnya jika organisasi gagal memenuhi kebutuhan esensial manusia untuk bertumbuh.
Pelatihan dan Pengembangan sebagai Pilar Strategis
Menyadari pentingnya investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, sejumlah organisasi telah mulai menata ulang strategi pelatihannya. Amazon melalui program Career Choice memberikan akses pendidikan kepada ribuan karyawan di berbagai bidang di luar pekerjaan inti mereka. Starbucks bekerja sama dengan Arizona State University untuk menawarkan beasiswa kuliah daring bagi para baristanya. Kedua inisiatif ini menunjukkan hasil yang nyata dalam meningkatkan loyalitas dan memperkuat komitmen karyawan terhadap organisasi.
Organisasi yang konsisten menyediakan pembelajaran berkelanjutan tercatat mengalami peningkatan retensi hingga dua puluh empat persen. Sementara perusahaan yang membuka peluang mobilitas internal mampu menurunkan angka turnover hingga empat puluh satu persen. Lebih dari itu, program mentoring yang efektif terbukti mendorong karyawan bertahan lebih lama, khususnya pada tiga tahun pertama masa kerja.
Lima Prinsip dalam Merancang Strategi Retensi yang Berdampak
Agar pelatihan benar-benar menjadi alat retensi yang efektif, pendekatannya harus terencana, relevan, dan terintegrasi dalam strategi organisasi. Terdapat lima prinsip utama yang dapat dijadikan panduan.
Pertama, rancanglah program pengembangan yang personal dan kontekstual. Karyawan tidak hanya ingin belajar, tetapi juga ingin melihat bagaimana pembelajaran tersebut mengarah pada pertumbuhan karier yang nyata.
Kedua, buat sistem pelatihan yang fleksibel dan mudah diakses. Penggabungan antara pembelajaran daring, microlearning, serta praktik langsung di tempat kerja akan meningkatkan efektivitas dan keterlibatan peserta.
Ketiga, berikan pelatihan khusus bagi manajer agar mereka mampu menjadi pembina yang andal, bukan sekadar pengawas tugas. Kualitas hubungan antara atasan dan bawahan memiliki dampak besar terhadap loyalitas jangka panjang.
Keempat, bangun budaya pengakuan dan apresiasi yang tulus. Karyawan yang merasa dihargai akan lebih terlibat dan memiliki kecenderungan lebih kuat untuk bertahan.
Kelima, evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa program pelatihan memberikan dampak nyata. Gunakan indikator seperti indeks perkembangan karier, tingkat kepuasan belajar, dan data retensi pascapelatihan untuk menyesuaikan strategi ke depan.
Menjadi Organisasi Tempat Talenta Ingin Bertumbuh
Di era kerja yang semakin cair dan kompetitif, organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat bekerja. Mereka harus menjadi tempat bertumbuh. Karyawan masa kini tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga pengalaman, pembelajaran, dan makna. Ketika organisasi mampu menyediakan semua itu secara konsisten, maka loyalitas tidak perlu lagi diminta.
Retensi bukan tentang mencegah kepergian, tetapi tentang menciptakan alasan yang kuat untuk tetap tinggal. Di tahun 2025 dan seterusnya, organisasi yang menempatkan pengembangan manusia sebagai prioritas strategis akan lebih siap menjawab tantangan zaman, menjaga stabilitas tim, serta mengamankan keunggulan jangka panjang.
Referensi:
- Work Institute. 2025 Retention Report
- Gallup. State of the Global Workplace 2024
- LinkedIn Learning. Workplace Learning Report 2025
- Proten International. 5 Proven Employee Retention Strategies (2025)
- Thirst Learning. Employee Retention Statistics 2025
- LumApps. Employee Engagement and Retention
- Starbucks & Arizona State University Partnership Case
- Amazon Career Choice Program Case
- SHRM & Gartner HR Research (2024–2025)
- Harvard Business Review. Why Employees Stay and Why They Go (2024)
