DARE TO LEAD Part 3 : Dare to Lead dalam Aksi – Menuju Organisasi Manusiawi dan Kompetitif

“Berani memimpin artinya berani membentuk organisasi yang tidak hanya efisien, tapi juga manusiawi.”

Setelah kita mengupas krisis kepemimpinan (Part 1) dan 4 pilar keberanian dalam praktik (Part 2), kini saatnya kita membumikan konsep Dare to Lead ke dalam konteks organisasi di Indonesia.

Karena teori tanpa aksi hanya akan jadi kutipan.
Dan keberanian tanpa aplikasi hanya akan jadi wacana.

A. Relevansi Kontekstual: Tantangan Organisasi Indonesia

Di banyak ruang kerja di Indonesia—baik swasta, pemerintahan, maupun nirlaba—masalahnya bukan soal kompetensi. Tapi soal budaya dan keberanian interpersonal.

1. Budaya Hierarkis Menghambat Keberanian

  • Masih banyak organisasi yang sangat top-down
  • “Atasan selalu benar” menjadi norma tak tertulis
  • Ide baru sering terhenti bukan karena buruk, tapi karena datang dari orang “yang belum cukup senior”

“Takut salah” sering kali lebih besar daripada “ingin belajar”.

2. Middle Manager: Beban Strategis, Ruang Ekspresi Minimal

Middle manager adalah tulang punggung organisasi,
namun mereka juga yang paling sering terjepit:

  • Harus mengeksekusi keputusan atas
  • Menenangkan dinamika tim bawah
  • Tapi sering tak punya ruang untuk jujur, berefleksi, atau bahkan keliru

Tanpa budaya psychological safety, middle manager bisa cepat burn out, tidak berkembang, dan akhirnya pasif dalam kepemimpinan.

3. Pemimpin Muda Insecure

Generasi baru yang naik kelas jadi leader seringkali tidak percaya diri,
bukan karena mereka tidak mampu—
tapi karena mereka tumbuh di lingkungan yang menuntut “meniru atasan”, bukan “menjadi otentik”.

🛠️ B. Aplikasi Konkrit Dare to Lead di 3 Lini Organisasi

Berikut cara Dare to Lead bisa diimplementasikan secara strategis dan kontekstual di tiga sektor utama:

1. Korporat

Tantangan: Kompetitif secara target, tapi lemah di empati & engagement

Solusi:
In-house Dare to Lead Program

Untuk membentuk middle-up manager yang tidak hanya jago eksekusi, tapi juga kuat secara emosional dan etis.

Fokus Program:

  • Sesi “Rumbling with Vulnerability” untuk membangun tim yang terbuka
  • Audit BRAVING antar-divisi untuk membangun kepercayaan lintas departemen
  • Living into Values dalam proses OKR dan KPI

Hasil yang diharapkan:

  • Meningkatnya retensi talenta muda
  • Budaya kerja yang lebih kolaboratif
  • Keberanian untuk mengusulkan inovasi tanpa rasa takut

2. Pemerintah & BUMN

Tantangan: Terjebak budaya formalistik & struktural

Solusi:
Reformasi Budaya Kepemimpinan Internal

Bergerak dari command and control ke collaborate and connect

Strategi Aksi:

  • Pelatihan pemimpin unit berbasis Psychological Safety & Growth Mindset
  • Forum reflektif lintas jabatan (co-creation dialog antar level)
  • Coaching individu untuk pejabat struktural dengan pendekatan BRAVING

Hasil yang diharapkan:

  • Budaya transparan dan terbuka terhadap masukan
  • Pemimpin daerah atau unit yang tidak anti kritik
  • Efektivitas kerja yang tumbuh dari kepercayaan, bukan sekadar kontrol

3. NGO / Organisasi Nirlaba

Tantangan: Tinggi idealisme, rendah kapasitas pemulihan (resilience)

Solusi:
Leadership Recovery & Reflection Culture

Membangun tim yang tangguh secara emosional dan tetap terjaga secara mental, meski berada di tekanan sumber daya.

Strategi Aksi:

  • Sesi rutin “Learning to Rise” untuk membahas kegagalan tanpa menyalahkan
  • Integrasi nilai personal dalam proses pengambilan keputusan proyek
  • Peer coaching untuk menciptakan support system horizontal

Hasil yang diharapkan:

  • Organisasi nirlaba yang tahan krisis, bukan hanya semangat di awal
  • Kolaborasi yang lebih manusiawi antartim proyek
  • Pemimpin muda NGO yang tumbuh tanpa trauma struktural

🌱 Penutup: Pemimpin Pemberani, Organisasi Manusiawi

“Berani memimpin bukan soal siapa yang paling berkuasa. Tapi siapa yang paling hadir, paling terbuka, dan paling siap untuk membentuk masa depan bersama.”

Di dunia kerja hari ini, di mana inovasi, kolaborasi, dan nilai kemanusiaan menjadi penentu keberlanjutan organisasi, kita tidak bisa lagi bergantung pada pemimpin yang hanya kuat secara teknis.

Kita butuh pemimpin yang berani hadir sebagai manusia—bukan mesin strategi.
Dan dari merekalah organisasi masa depan akan tumbuh: manusiawi dan kompetitif.

Apakah organisasi Anda siap membangun kepemimpinan baru yang kuat, otentik, dan manusiawi?

Kami siap bermitra untuk merancang:

✅ Program pelatihan kepemimpinan berbasis Dare to Lead
✅ Coaching untuk middle manager dan calon pemimpin muda
✅ Transformasi budaya organisasi menuju kolaborasi, keberanian, dan integritas

📩 Hubungi kami hari ini dan mari bentuk ekosistem pemimpin pemberani Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *