Peran Strategis CEO dan HR dalam Program Pelatihan 2025

Kunci Keberhasilan Transformasi SDM di Perusahaan Indonesia

Di tengah disrupsi ekonomi, perubahan generasi tenaga kerja, dan tekanan global yang kian dinamis, perusahaan tidak lagi cukup hanya fokus pada ekspansi pasar atau investasi teknologi. Faktor manusia telah kembali menjadi pusat perhatian. Bukan semata sebagai aset, melainkan sebagai kekuatan strategis yang menentukan keberlangsungan dan keunggulan kompetitif jangka panjang.

Dalam konteks ini, peran CEO dan divisi Human Resources (HR) menjadi sangat menentukan. Mereka bukan hanya penentu arah kebijakan, melainkan juga arsitek utama dalam membentuk sistem pembelajaran dan pengembangan yang relevan, berdampak, dan berkelanjutan.

Seperti yang disampaikan oleh Prof. Rhenald Kasali dalam forum manajemen tahun 2025, “Di tengah ketidakpastian global, organisasi yang sukses bukan yang paling besar atau paling kaya, tetapi yang paling adaptif. Dan adaptasi dimulai dari pengembangan manusia.” Pandangan ini tidak hanya relevan secara konseptual, tetapi juga semakin menjadi rujukan utama dalam strategi bisnis modern.

Kepemimpinan yang Tidak Berjarak dari Pengembangan Talenta

Dalam banyak perusahaan, visi transformasi kerap dicanangkan dari level puncak, namun implementasinya berhenti pada level administratif. Ketika pelatihan diposisikan hanya sebagai kegiatan operasional HR, maka ia kehilangan kekuatannya sebagai katalis perubahan. Sebaliknya, pelatihan yang dibentuk dan didorong oleh kepemimpinan tertinggi perusahaan akan membawa dampak budaya yang nyata.

Hasil survei EY-Parthenon awal tahun ini menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen CEO di Asia Tenggara menempatkan pengembangan kompetensi karyawan sebagai prioritas strategis. Namun yang lebih menarik, hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar terlibat dalam proses desain dan pelaksanaan pelatihan. Ketimpangan inilah yang menjadi akar dari kegagalan banyak program pengembangan.

Keterlibatan CEO secara langsung, baik dalam merancang agenda pelatihan maupun dalam menyampaikan urgensinya kepada seluruh jenjang organisasi, terbukti meningkatkan efektivitas program secara signifikan. Ketika pemimpin puncak hadir dan berbicara dalam forum pelatihan, para peserta akan memahami bahwa ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan bagian dari strategi masa depan organisasi.

HR sebagai Mitra Strategis, Bukan Penjaga Prosedur

Paradigma lama yang memandang HR hanya sebagai pengelola administrasi personalia tidak lagi memadai di tahun 2025. HR kini dituntut menjadi mitra strategis yang memahami prioritas bisnis, mampu membaca arah pasar tenaga kerja, serta sanggup merancang sistem pelatihan yang adaptif dan relevan.

Penelitian Gloat tahun ini mencatat bahwa 45 persen CEO merasa organisasi mereka belum siap menghadapi disrupsi karena tidak memiliki sistem pengembangan SDM yang terintegrasi. Ini bukan sekadar persoalan metodologi pelatihan, melainkan persoalan infrastruktur, kompetensi HR, dan ketepatan arah strategi pembelajaran.

HR yang efektif adalah mereka yang memiliki pemahaman mendalam terhadap strategi bisnis dan mampu menerjemahkannya ke dalam peta kompetensi dan program pelatihan. Di sinilah pentingnya kemampuan HR dalam strategic workforce planning, pengelolaan kapabilitas organisasi, serta penguasaan atas metrik dampak pelatihan secara menyeluruh.

Dalam penelitian Supriyadi dari STIE BII Yogyakarta, ditemukan bahwa perusahaan yang telah mengintegrasikan sistem manajemen informasi SDM mencatat peningkatan efisiensi pelatihan hingga lebih dari 30 persen. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pelatihan yang berbasis data dan sistem dapat mempercepat dampak pembelajaran sekaligus mengefisienkan biaya operasional.

Ketika Investasi Manusia Menjadi Titik Balik

Pelatihan yang tidak menyentuh kebutuhan strategis organisasi akan dipandang sebagai beban. Namun, ketika dirancang secara serius, selaras dengan prioritas bisnis, dan dijalankan oleh kepemimpinan yang berkomitmen, maka pelatihan menjadi investasi jangka panjang yang menentukan.

Deloitte dalam laporan Human Capital Outlook 2025 menyebutkan bahwa perusahaan dengan sistem pengembangan kepemimpinan yang terstruktur memiliki peluang dua kali lebih besar untuk bertahan di tengah volatilitas ekonomi global. Ini menjadi sinyal bahwa masa depan perusahaan tidak ditentukan oleh kapital semata, melainkan oleh kapasitas adaptasi manusianya.

Yang perlu dipahami adalah bahwa pelatihan tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis. Lebih dari itu, pelatihan harus menciptakan perubahan pola pikir, memperkuat budaya organisasi, dan menyiapkan talenta untuk memimpin dalam ketidakpastian.

Tindakan Nyata untuk Organisasi yang Siap Melangkah

Berdasarkan praktik-praktik terbaik yang telah dijalankan berbagai organisasi, ada beberapa langkah konkret yang dapat diterapkan oleh CEO dan HR dalam memperkuat peran pelatihan sebagai strategi transformasi SDM:

  • Keterlibatan CEO sejak awal program, mulai dari penyusunan kurikulum, komunikasi strategis, hingga penguatan pesan kultural organisasi.
  • Pemanfaatan data dan sistem digital (HRMIS) untuk memetakan kebutuhan kompetensi dan mengevaluasi dampak pelatihan secara objektif dan berkelanjutan.
  • Pengembangan program pelatihan yang berbasis proyek nyata, sehingga pembelajaran terjadi dalam konteks riil dan dapat segera dirasakan dampaknya.
  • Penerapan metode blended learning, mentoring, dan coaching untuk meningkatkan keterlibatan peserta dan memperkuat transfer pengetahuan antar generasi.
  • Penetapan indikator keberhasilan yang jelas, seperti peningkatan produktivitas, kolaborasi lintas unit, dan penguatan budaya kerja yang progresif.

Penutup

Transformasi SDM tidak dapat terjadi dalam ruang yang terpisah dari kepemimpinan strategis. Pelatihan yang berdampak hanya akan terwujud jika CEO dan HR berjalan bersama, membentuk aliansi yang kokoh dalam mengembangkan kapabilitas manusia secara terencana dan terukur.

Dalam dunia yang berubah lebih cepat dari sebelumnya, keunggulan organisasi akan ditentukan oleh kualitas manusia yang memimpinnya. Dan kualitas manusia hanya dapat dibentuk melalui pembelajaran yang bermakna, sistematis, dan selaras dengan misi jangka panjang organisasi.

Maka, jika perusahaan ingin tumbuh bukan hanya besar tetapi juga relevan, langkah pertama yang harus diperkuat adalah komitmen terhadap pengembangan manusia. Dan langkah itu, seyogianya dimulai dari kepemimpinan di puncak.

Referensi

  1. Rhenald Kasali. Forum Manajemen 2025. Universitas Indonesia.
  2. EY-Parthenon. CEO Outlook Survey Asia Pacific 2025. Ernst & Young Global.
  3. Deloitte Southeast Asia. Human Capital Outlook 2025. Deloitte Insights.
  4. Gloat. The Skills Transformation Report 2025. Gloat Research Lab.
  5. Supriyadi. “Efektivitas HRMIS dalam Transformasi Digital SDM”. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. STIE BII Yogyakarta, 2024.
  6. HRD Forum. “10 Kompetensi HR Indonesia 2025”. Bahari Antono. April 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *