
Di tengah kompleksitas dunia bisnis tahun 2025, pengembangan kapabilitas sumber daya manusia tidak lagi dapat dianggap sebagai pilihan tambahan. Ia telah menjadi elemen utama dalam mempertahankan daya saing perusahaan. Namun, dalam merancang strategi pengembangan talenta, para pemimpin organisasi sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar: pendekatan seperti apa yang paling efektif untuk membangun kompetensi karyawan?
Dua metode yang paling sering dipertimbangkan adalah corporate training dan traditional learning. Masing-masing memiliki karakteristik, kekuatan, dan keterbatasan yang berbeda. Pemahaman yang tepat mengenai keduanya akan membantu organisasi menentukan pilihan strategi yang paling selaras dengan kebutuhan mereka.
Mengapa Pertanyaan Ini Semakin Relevan di Tahun 2025
Transformasi teknologi, percepatan otomatisasi, dan perubahan kebutuhan pelanggan telah menciptakan tekanan yang besar terhadap kesiapan kompetensi internal perusahaan. Menurut laporan Deloitte Human Capital Trends 2024, lebih dari 70 persen eksekutif menyatakan bahwa kesenjangan keterampilan menjadi hambatan utama dalam mencapai tujuan strategis perusahaan.
Dalam situasi tersebut, efektivitas pendekatan pembelajaran menjadi faktor penentu. Organisasi tidak lagi dapat bergantung pada metode yang bersifat generik dan terputus dari realitas bisnis. Dibutuhkan metode pengembangan yang adaptif, terarah, dan berdampak langsung terhadap performa.
Perbandingan Antara Dua Pendekatan
1. Tujuan dan Fokus Pembelajaran
Corporate training dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik organisasi. Program pelatihan biasanya disesuaikan dengan strategi bisnis, tantangan pasar, dan budaya perusahaan. Materi yang disampaikan bersifat kontekstual, praktis, dan aplikatif.
Sementara itu, traditional learning seperti pendidikan universitas atau pelatihan bersertifikasi formal cenderung menekankan pada penguasaan teori dan kerangka konseptual. Fokusnya lebih pada pembentukan dasar keilmuan dan kompetensi umum.
Dalam konteks organisasi yang membutuhkan respons cepat terhadap perubahan pasar, corporate training sering kali lebih relevan karena selaras langsung dengan realita kerja.
2. Kecepatan Adaptasi dan Relevansi
Salah satu keunggulan utama corporate training adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan cepat. Kurikulum dapat diperbarui sesuai kebutuhan strategis, bahkan dalam hitungan minggu. Misalnya, ketika perusahaan mengadopsi model kerja hybrid, pelatihan kepemimpinan jarak jauh dapat segera dirancang dan diterapkan.
Di sisi lain, traditional learning memiliki struktur kurikulum yang relatif kaku dan membutuhkan waktu panjang untuk penyesuaian. Hal ini membuatnya kurang responsif terhadap perubahan yang cepat.
3. Metodologi Pembelajaran dan Keterlibatan Peserta
Corporate training lebih banyak menggunakan pendekatan experiential learning, diskusi studi kasus, simulasi, dan praktik langsung. Model seperti ini terbukti meningkatkan retensi materi secara signifikan. Laporan dari i4cp (2024) menunjukkan bahwa peserta pelatihan yang mengikuti program berbasis pengalaman menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 31 persen.
Sebaliknya, traditional learning masih banyak mengandalkan metode ceramah dan ujian tertulis. Meskipun efektif untuk memperkuat pemahaman teoritis, metode ini sering kali tidak cukup kuat untuk membangun kompetensi praktis yang dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari.
4. Biaya, Skala, dan Efisiensi
Traditional learning umumnya lebih terjangkau untuk pembelajaran jangka panjang, terutama dalam konteks pendidikan formal dan program sertifikasi profesional. Skema biaya yang terstruktur juga menjadikannya pilihan yang stabil untuk pengembangan individu secara umum.
Namun, corporate training memungkinkan pengukuran return on learning yang lebih jelas. Studi dari McKinsey & Company (2024) menyebutkan bahwa perusahaan yang mengaitkan pelatihan dengan indikator kinerja bisnis mengalami peningkatan efektivitas organisasi dalam waktu kurang dari satu tahun.
Situasi yang Paling Sesuai untuk Masing-Masing Pendekatan
Corporate training paling efektif diterapkan saat perusahaan menghadapi tantangan perubahan, membutuhkan akselerasi kompetensi, atau ingin menanamkan nilai dan budaya tertentu ke dalam organisasi. Program ini juga sangat cocok digunakan dalam inisiatif transformasi, restrukturisasi, atau penguatan kapabilitas strategis.
Sementara itu, traditional learning cocok untuk membangun fondasi keilmuan, menyelesaikan jenjang pendidikan, atau mendapatkan sertifikasi profesional yang diperlukan untuk regulasi atau standar industri tertentu. Metode ini juga berguna dalam pengembangan jangka panjang yang tidak terikat pada kebutuhan bisnis sesaat.
Rekomendasi Bagi Para Pengambil Keputusan
Efektivitas suatu metode pembelajaran tidak dapat dinilai hanya dari isi materinya, melainkan harus dilihat dari kesesuaiannya dengan konteks organisasi, urgensi kebutuhan, serta tujuan strategis yang ingin dicapai. Di era 2025 yang penuh ketidakpastian, pendekatan tunggal tidak lagi memadai.
Organisasi terkemuka seperti DBS Bank dan Siemens telah mengadopsi pendekatan hybrid yang memadukan kedalaman teori dari traditional learning dengan relevansi dan fleksibilitas dari corporate training. Hasilnya adalah sistem pengembangan SDM yang tidak hanya adaptif, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.
Penutup
Tidak ada satu pendekatan yang secara mutlak lebih baik dari yang lain. Corporate training dan traditional learning memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kombinasi keduanya, jika diterapkan dengan strategi yang tepat, dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang selaras dengan arah bisnis, mendalam secara substansi, dan tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.
Referensi
- Deloitte Insights. (2024). The Human Capital Trends 2024: The Skills Imperative
- Institute for Corporate Productivity (i4cp). (2024). High-Performance Organizations and Learning Strategy Alignment Report
- McKinsey & Company. (2024). Learning That Works: Linking Training to Business Results
- Forbes. (2023). The Future of Learning: Engagement and Retention Metrics
- Harvard Business Review. (2023). What Makes Corporate Training Stick?
- World Economic Forum. (2024). Global Talent Competitiveness Index
