5 Levels of Leadership Part 2

3 Level Awal Kepemimpinan Menurut Maxwell — dan Mengapa Banyak Pemimpin Gagal Melewati Level 2

Strategi konkret bagi profesional dan HR untuk membentuk pemimpin yang bisa memimpin tim, bukan hanya memegang jabatan.

🔍 Fakta Kritis: Banyak Pemimpin Gagal karena Tidak Bertumbuh

Menurut Harvard Business Review, 60% manajer baru gagal dalam 24 bulan pertama masa jabatannya. Salah satu penyebab utamanya bukan karena mereka tidak cerdas atau kurang terampil dalam aspek teknis, tapi karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana memimpin manusia — hanya bagaimana mengelola pekerjaan.

Kegagalan ini bukan sekadar masalah individu. Ini adalah sinyal kegagalan organisasi dalam menyiapkan jalur pertumbuhan kepemimpinan yang bertahap dan manusiawi.

📈 Mengapa 5 Levels of Leadership Relevan di Era Sekarang

Model 5 Levels of Leadership yang diperkenalkan oleh John C. Maxwell tidak hanya menjadi teori populer, tapi telah dipakai oleh banyak perusahaan kelas dunia untuk mengembangkan jalur karier dan budaya kepemimpinan yang berkelanjutan. Khususnya tiga level awal, menjadi fondasi penting dalam era kerja yang serba hybrid, lintas generasi, dan cepat berubah.

🚦Level 1: Posisi — Jabatan Bukanlah Pengaruh

“People follow you because they have to.”

Level ini adalah titik awal setiap pemimpin. Anda diberi jabatan, diberi otoritas. Tapi kepemimpinan sejati belum dimulai.

Tantangan Umum:

  • Pemimpin hanya mengandalkan struktur formal (jabatan, wewenang)
  • Tim merasa diperintah, bukan diajak
  • Engagement rendah, inisiatif minim, dan konflik interpersonal sering muncul
  • Turnover tinggi di bawah pemimpin level 1

📊 Realita di Organisasi:

Survei Gallup menunjukkan bahwa hanya 21% karyawan yang merasa sangat terlibat dengan pekerjaannya. Salah satu alasannya: mereka tidak memiliki pemimpin yang membangun hubungan, hanya atasan yang memberi perintah.

🧭 Level 2: Permission — Kepemimpinan lewat Relasi

“People follow you because they want to.”

Pada tahap ini, pemimpin mulai membangun koneksi personal dan emosional. Ini bukan tentang menjadi “teman”, tapi tentang memahami bahwa empati adalah fondasi pengaruh.

🛠️ Keterampilan Kunci:

  • Mendengarkan aktif
  • Menunjukkan ketulusan dalam interaksi
  • Mengelola konflik secara terbuka dan sehat
  • Membangun budaya tim yang inklusif dan suportif

🌐 Relevansi di Era Hybrid:

Dalam dunia kerja pasca-pandemi, banyak interaksi berlangsung secara daring. Pemimpin yang tidak bisa membangun “kehadiran emosional” akan kehilangan koneksi dengan timnya. Zoom, Slack, atau Teams tidak cukup tanpa koneksi manusia.

⚠️ Mengapa Banyak Pemimpin Gagal di Level Ini:

  • Tidak dilatih membangun kepercayaan
  • Fokus pada deliverables, bukan relasi
  • Masih merasa bahwa “terlalu dekat dengan bawahan” adalah kelemahan
  • Tidak bisa memimpin Gen Z dan milenial yang mengutamakan makna, bukan hierarki

🏗️ Level 3: Production — Kepemimpinan lewat Hasil Nyata

“People follow you because of what you have done for the organization.”

Pemimpin level 3 menciptakan dampak. Mereka bukan hanya disukai, tapi juga menggerakkan tim mencapai target bersama. Pengaruh mereka meningkat karena mereka terbukti mampu menghasilkan kinerja tim yang tinggi secara berkelanjutan.

📌 Ciri-Ciri Pemimpin Level 3:

  • Fokus pada kolaborasi, bukan mikro-manajemen
  • Menetapkan OKR (Objectives & Key Results) yang menginspirasi
  • Mengembangkan sistem kerja berbasis kapabilitas, bukan hanya target individu
  • Memberi ruang untuk eksperimen dan pembelajaran dari kegagalan

📋 Studi Kasus Ringan:

Seorang manajer marketing berusia 32 tahun mengalami stagnasi. Meski disukai tim, proyeknya tidak pernah selesai tepat waktu. Setelah coaching berbasis 5 Levels, ia sadar bahwa tanpa arah yang jelas dan akuntabilitas, kepercayaan tidak akan cukup. Ia mulai menerapkan OKR berbasis tim dan hasilnya: 3 kuartal berturut-turut timnya menjadi top performer di divisi.

🧩 Implikasi untuk HR & Pengembangan SDM

Rekomendasi Strategis:

  1. Bangun Roadmap Pelatihan yang tidak hanya fokus pada hard skill manajerial, tapi juga soft skill kepemimpinan:
    • Tahap 1: Memahami jabatan dan struktur
    • Tahap 2: Mengembangkan empati dan kepercayaan
    • Tahap 3: Mengelola tim dan mencapai hasil
  2. Gunakan metrik keterlibatan dan kepercayaan tim sebagai indikator kesuksesan pemimpin, bukan hanya performa keuangan.
  3. Berikan coaching berlapis, khususnya bagi first-time managers. Jangan biarkan mereka belajar kepemimpinan dari trial & error yang menyakitkan.
  4. Hindari pelatihan one-shot, fokuslah pada pembelajaran berkelanjutan berbasis refleksi, percobaan, dan mentoring.

🚨 Penutup: Pemimpin yang Tidak Bertumbuh = Bottleneck Organisasi

Kita tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan pemimpin yang terus bertumbuh.

Organisasi yang gagal mengembangkan pemimpinnya dari level posisi ke level produksi akan terus menemui masalah: tim tidak termotivasi, konflik berkepanjangan, dan kinerja yang stagnan.

📣 Tunggu Part 3:

Di bagian selanjutnya, kita akan mengupas Level 4 & 5 dalam kepemimpinan Maxwell — bagaimana menjadi pemimpin yang bisa melahirkan pemimpin dan mewariskan legacy organisasi.

Jika Anda bagian dari tim HR, manajer SDM, kepala unit pelatihan, atau pemimpin senior—pastikan Anda tidak melewatkan Part 3 yang bisa menjadi lompatan transformasi kepemimpinan di organisasi Anda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *