Designing Your Life Part 1 – Mengapa Karier Modern Butuh Pendekatan “Design Thinking”

1. Ayo Jujur Dulu…

Pernah nggak, suatu pagi Anda bangun, lihat jam, lalu merasa beban di dada begitu berat?
Bukan karena Anda sakit, tapi karena Anda tahu… hari ini lagi-lagi Anda akan mengulang rutinitas yang sama. Meeting, laporan, target, dan drama kantor yang entah kenapa nggak ada habisnya.

Dulu, Anda mungkin masuk ke pekerjaan ini dengan semangat besar.
Tapi sekarang? Rasanya seperti sedang menjalani naskah yang ditulis orang lain.

Fenomena ini bukan perasaan pribadi. Data global membuktikannya:

  • LinkedIn Workforce Report 2024:
    • Profesional muda di Indonesia rata-rata bertahan di satu pekerjaan hanya 2,1 tahun.
    • Di usia 25–34, globalnya rata-rata 3 tahun saja.
    • Di rentang usia 20–24? Hanya 1,3 tahun!
  • McKinsey Health Institute (2023): 1 dari 4 karyawan mengalami gejala burnout berat.
  • Fenomena Great Resignation membuat jutaan orang meninggalkan pekerjaan, bukan karena gaji buruk, tapi karena kehilangan makna dan arah.
  • Quiet Quitting merajalela—orang tetap bekerja, tapi hanya sebatas “minimal effort”.

Saya ingin tanya sesuatu yang sederhana tapi cukup mengguncang:

Apakah karier Anda sekarang berjalan karena Anda sengaja mendesainnya… atau karena Anda hanyut terbawa arus?

2. Masalahnya: Kita Masih Pakai Peta Lama

Di era orang tua kita, karier itu seperti tangga. Mulai dari bawah, naik setahap demi setahap, lalu pensiun di puncak.
Kalau Anda rajin, loyal, dan disiplin, hampir pasti Anda akan naik perlahan tapi stabil.

Masalahnya, tangga itu sekarang patah.

Kita hidup di era VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous), bahkan sebagian pakar menyebutnya era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).

  • Volatile: Industri bisa runtuh dalam semalam.
  • Non-linear: Jalur karier tidak lagi urut; bisa melompat sektor, peran, bahkan benua.
  • Incomprehensible: Perubahan terlalu cepat untuk dipahami sepenuhnya.

Kalau dulu perencanaan karier tradisional—yang memprediksi 10–20 tahun ke depan—masih relevan, sekarang itu jadi rapuh.
Teori klasik seperti Career Stage Theory (Donald Super) memang mengakui bahwa karier punya fase-fase, tapi di dunia modern, fase itu sering terpotong atau diputar ulang.

Contoh nyata:
Seorang lulusan hukum bisa jadi product manager di perusahaan teknologi.
Seorang insinyur bisa beralih jadi konsultan ESG di NGO internasional.
Dan semua itu bisa terjadi dalam rentang 5 tahun, bukan 20 tahun.

3. Bayangkan Ini…

Mari saya ajak Anda membayangkan.
Anda baru beli mobil listrik canggih di tahun 2025. Tapi anehnya, untuk navigasi, Anda memilih peta kertas yang dibuat tahun 1990.

Masalah langsung muncul:

  • Jalan tol baru? Nggak ada di peta.
  • Flyover terbaru? Hilang.
  • Jalan yang dulu sepi, sekarang macet total.

Peta lama itu bukan cuma bikin Anda tersesat—tapi juga membuat perjalanan jadi penuh frustrasi.

Begitulah rasanya mengelola karier dengan mindset lama.
Kita mencoba memprediksi masa depan menggunakan model yang dibuat untuk dunia yang sudah tidak ada lagi.

Bill Burnett, co-author Designing Your Life, mengatakan:

“You can’t know where you’ll be in five years. You can only design for where you are now, and prototype the future.”

Kuncinya adalah merancang sambil berjalan, bukan hanya menebak jalur dari awal.

4. Design Thinking: Mindset Baru untuk Karier

Asalnya dari dunia inovasi produk di Stanford d.school, Design Thinking awalnya dipakai oleh desainer dan insinyur untuk menciptakan solusi kreatif. Tapi prinsipnya ternyata sangat relevan untuk hidup dan karier.

Lima tahapnya:

  1. Empathize
    • Kenali diri seperti mengenali pelanggan: nilai, energi, dan minat Anda.
    • Gunakan “Energy Engagement Map” untuk mencatat aktivitas yang mengisi energi dan yang menguras.
  2. Define
    • Rumuskan masalah sebenarnya, bukan gejalanya.
    • Misalnya, masalahnya bukan “bos toxic” tapi “saya butuh lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran”.
  3. Ideate
    • Ciptakan banyak ide jalur hidup, tanpa langsung menilai.
    • Gunakan teknik mind mapping atau wild brainstorming.
  4. Prototype
    • Uji coba kecil: ikut proyek lintas divisi, ambil kursus singkat, atau magang paruh waktu.
    • Tujuannya adalah “mencicipi” sebelum komitmen penuh.
  5. Test
    • Evaluasi hasil, revisi, dan coba lagi.
    • Proses ini bisa diulang berkali-kali—tidak ada jalur final yang kaku.

Mindset inti: penasaran, siap bereksperimen, dan melihat kegagalan kecil sebagai bagian dari proses belajar.

Kaitkan dengan teori:

  • Self-Determination Theory (Deci & Ryan): Orang lebih termotivasi bila merasa punya autonomy, competence, dan relatedness.
  • Growth Mindset (Carol Dweck): Melihat kemampuan sebagai hal yang berkembang, bukan tetap.

5. Dampaknya Nyata di Berbagai Sektor

Korporat

  • Membuat jalur karier fleksibel: bukan hanya promosi vertikal, tapi juga lateral moves.
  • Retensi naik: studi Gallup (2022) menunjukkan karyawan yang melihat peluang pertumbuhan internal 2,9 kali lebih mungkin bertahan.

Pemerintahan

  • ASN adaptif terhadap reformasi birokrasi.
  • Program rotasi jabatan berbasis proyek meningkatkan kapasitas lintas fungsi.

NGO

  • Talenta sosial lebih tahan tekanan.
  • Mampu berinovasi dalam program karena terbiasa prototyping dan iterative design.

Profesional muda

  • Merasa memegang kendali.
  • Lebih siap menghadapi perubahan industri karena punya portofolio keterampilan lintas bidang.

6. Penutup yang Menggantung

Kalau hidup ini adalah hasil desain, pertanyaannya:
Apa saja komponen yang harus kita desain supaya karier terasa hidup?

Saya akan bocorkan sedikit: Ada lima komponen, dan satu di antaranya hampir pasti belum pernah Anda pikirkan—padahal justru itu yang sering jadi pemicu transformasi besar.

Kita akan membedahnya di Part 2.
Sampai di situ, coba renungkan:

  • Apakah Anda sedang memegang kemudi hidup Anda… atau hanya menjadi penumpang?
  • Peta yang Anda gunakan… masih relevan, atau sudah usang?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *