Tahap 2 bagain 2. Desain Economic Engine & Value Chain

Realita Pasar
Bayangkan kita melangkah ke sebuah pasar modern. Rak-rak penuh sesak dengan produk yang tampak sama. Detergen ada puluhan merek, kopi berjejer dengan berbagai varian, beras dipajang dari kualitas rendah hingga premium.
Di lorong lain, pedagang online sibuk menawarkan promo lewat layar ponsel kita: diskon kilat, cashback, ongkir gratis. Dunia dagang sudah berubah. Pasar bukan lagi sekadar ruang sederhana untuk jual beli—ia telah menjelma menjadi arena kompetisi yang tak mengenal ampun.
Harga saling banting, strategi promosi semakin canggih, dan konsumen makin kritis. Mereka tak lagi membeli hanya karena murah. Mereka membandingkan kualitas, membaca ulasan, dan memilih brand yang mampu memberi pengalaman terbaik.
Lalu, di manakah koperasi berdiri di tengah arus besar ini?
Koperasi punya modal sosial yang luar biasa: kepercayaan anggota, akses langsung ke bahan baku, serta komunitas yang loyal. Itu kekuatan yang tidak dimiliki oleh banyak bisnis lain. Namun, modal sosial saja tidak otomatis menjelma menjadi keunggulan kompetitif. Tanpa strategi ekonomi yang jelas, semua itu hanya seperti “aset tidur”—ada nilainya, tapi tidak menghasilkan daya dorong.
Itulah sebabnya, banyak koperasi yang masih gagap menghadapi pasar. Produk mereka sering tenggelam di tengah gempuran brand besar. Loyalitas anggota tak selalu berbanding lurus dengan daya beli. Dan pada akhirnya, koperasi lebih sering bertahan hidup daripada benar-benar bertumbuh.
Pertanyaannya kemudian muncul—pertanyaan yang penting, bahkan mendesak:
👉 Apa yang membedakan koperasi yang sekadar bertahan dengan koperasi yang mampu menjadi pemain tangguh?
Apakah sekadar soal harga yang lebih murah? Tentu tidak.
Apakah sekadar soal banyaknya anggota? Tidak juga.
Yang membedakan adalah strategi ekonomi yang kokoh: kemampuan merancang mesin bisnis yang bisa bergerak konsisten, sekaligus rantai nilai yang mampu mengalirkan manfaat nyata dari hulu ke hilir.
Koperasi yang bertahan hanyalah penonton dalam kerasnya persaingan.
Koperasi yang menang adalah mereka yang berani mengubah aset tidur menjadi mesin ekonomi, dan menjadikan solidaritas anggota sebagai kekuatan pasar.
Tantangan – Lebih dari Sekadar Produk
Banyak koperasi – juga UMKM – sering terjebak dalam keyakinan sederhana: asal punya produk, pasti laku. Logika ini mungkin benar di masa lalu, ketika pilihan di pasar terbatas dan konsumen tidak terlalu kritis. Tapi hari ini, realitasnya berbeda. Pasar modern tidak hanya menguji kualitas barang, tetapi juga ketajaman strategi dan kejelasan model bisnis.
Mari kita lihat bagaimana kenyataan ini dialami langsung oleh koperasi peserta inkubasi kita.
Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (PRIMKOPTI) Handayani — Salatiga
Kedelai adalah napas hidup para perajin tempe, dan tempe adalah makanan rakyat yang tidak pernah kehilangan penggemar. Sekilas, apa yang perlu dirisaukan? Pasarnya jelas, permintaannya stabil, dan produknya dibutuhkan setiap hari.
Namun persoalan terbesar PRIMKOPTI HANDAYANI bukanlah apakah tempe akan tetap dimakan orang, melainkan bagaimana kedelai sebagai bahan baku bisa dikelola secara efektif, stabil, dan memberi nilai tambah bagi anggota.
Bayangkan, ketika harga kedelai naik-turun tajam, para perajin tempe resah. Mereka tidak hanya butuh kedelai, mereka butuh kepastian. Jika distribusi tidak lancar, karung-karung kedelai bisa menumpuk di gudang, sementara anggota mengeluh karena sulit berproduksi. Konsumen di luar sana pun tidak pernah merasakan manfaat dari keberadaan koperasi sebagai penjaga stabilitas pasokan.
Produk ada, permintaan ada. Tapi tanpa “mesin ekonomi” yang terstruktur, potensi besar itu hanya menjadi api dalam sekam—ada tenaga, tapi tidak menghasilkan kekuatan nyata.
Koperasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) — Salatiga
Dunia olahraga penuh peluang. Dari kelas kebugaran, event pertandingan, hingga merchandise, semuanya bisa menjadi pintu masuk bisnis. Tapi masalah muncul ketika koperasi hanya berhenti pada menjual produk fisik: kaos, sepatu, atau alat olahraga.
Coba bayangkan. Apa bedanya menjual kaos olahraga di koperasi dengan ribuan toko online yang menjajakan produk serupa dengan harga banting? Konsumen bisa saja membeli, tapi tanpa diferensiasi, koperasi akan terjebak dalam perang harga tanpa ujung—dan itulah jurang paling mematikan bagi usaha.
Tantangan Koperasi KONI bukan hanya soal apa yang dijual, tapi bagaimana nilai tambahnya dirasakan. Apakah melalui pengalaman olahraga komunitas yang tidak bisa dibeli di marketplace? Apakah dengan menciptakan event eksklusif yang membangun identitas? Atau melalui layanan yang membuat anggota merasa menjadi bagian dari ekosistem sportpreneurship?
Jika koperasi gagal menjawab itu, energi besar komunitas olahraga akan habis terkuras dalam kompetisi harga.
Koperasi Pondok Pesantren (KOPPONTREN) Mashitoh — Salatiga
Pesantren selalu punya modal sosial yang istimewa: ratusan santri, wali santri, serta jaringan masyarakat sekitar. Satu pasar internal yang captive dan loyal, yang jarang dimiliki oleh entitas bisnis manapun.
Namun, jumlah anggota yang besar tidak otomatis berarti transaksi ekonomi yang kuat. Tanpa sistem yang rapi, loyalitas itu bisa goyah. Santri dan wali santri tetap bisa memilih membeli ke pasar modern, toko kelontong tetangga, atau bahkan platform digital yang lebih cepat dan praktis.
Produk-produk pesantren—makanan, kebutuhan sehari-hari, atau layanan lain—bisa tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar jika tidak ditopang dengan value chain yang efisien. Loyalitas yang seharusnya menjadi energi besar, akhirnya hanya tercatat sebagai angka di daftar anggota, tanpa pernah berubah menjadi daya beli nyata.
Polanya Jelas
Ketiga kisah ini menunjukkan satu pola yang sama:
- Produk bisa bagus, tapi tanpa distribusi, ia hanya menjadi tumpukan barang.
- Harga bisa murah, tapi tanpa diferensiasi, koperasi hancur dalam perang harga.
- Anggota bisa banyak, tapi tanpa sistem efisien, loyalitas mereka hanya berhenti sebagai angka, bukan kekuatan ekonomi nyata.
Kunci Tantangan Inkubasi
Di titik inilah koperasi peserta inkubasi Salatiga ditantang untuk melangkah lebih jauh. Bahwa keberhasilan bukan sekadar tentang produk yang dimiliki, melainkan tentang membangun economic engine—sebuah mesin penggerak yang mampu menjawab pertanyaan mendasar:
👉 “Bagaimana koperasi menghasilkan nilai secara konsisten, efisien, dan berkelanjutan?”
Mesin inilah yang akan mengubah:
- PRIMKOPTI HANDAYANI menjadi motor stabilitas pangan kedelai,
- KOPERASI KONI menjadi pusat sportpreneurship berbasis komunitas,
- KOPPONTREN MASHITOH menjadi ekosistem ekonomi halal yang solid dan mandiri.
Di sinilah perjalanan tahap 2 inkubasi menemukan maknanya. Sebuah tahap di mana koperasi tidak lagi sekadar “punya produk”, tetapi mulai membangun mesin ekonomi yang membuat mereka tangguh menghadapi pasar.
Economic Engine – Otak Bisnis Koperasi
Bayangkan sebuah koperasi seperti tubuh manusia. Produk dan layanan adalah tangan yang bekerja, anggota adalah jantung yang memompa darah solidaritas, sementara modal sosial adalah paru-paru yang memberi oksigen. Namun tanpa otak yang mengendalikan arah, tubuh itu akan bergerak tanpa tujuan, mudah lelah, bahkan bisa kehilangan jalan.
Otak bisnis koperasi itulah yang kita sebut economic engine. Ia bukan sekadar istilah keren, melainkan kerangka berpikir yang menuntun koperasi untuk menemukan cara paling efektif dalam menghasilkan nilai—bukan hanya sekali, tetapi secara konsisten, efisien, dan berkelanjutan.
Economic engine ini menjawab lima pertanyaan mendasar yang akan menentukan masa depan koperasi.
1. Siapa Pelanggan Sesungguhnya? (Customer Segments)
PRIMKOPTI, misalnya, sering merasa bahwa seluruh petani kedelai adalah “pelanggannya.” Padahal, jika diteliti lebih dalam, pelanggan inti mereka justru adalah para perajin tempe—mereka yang hidupnya bergantung pada pasokan kedelai berkualitas dengan harga stabil. Menyadari hal ini berarti PRIMKOPTI HANDAYANI tidak sekadar menjual kedelai, tetapi menyediakan kepastian hidup bagi perajin tempe.
Koperasi KONI Salatiga juga demikian. Jika selama ini koperasi olahraga merasa hanya melayani atlet atau anggota klub, maka pertanyaan yang lebih strategis adalah: apakah pasar yang lebih luas, seperti komunitas pencinta olahraga, orang-orang yang ingin hidup sehat, bahkan keluarga yang mencari aktivitas bersama, juga bisa menjadi pelanggan utama?
Sementara KOPPONTREN MASHITOH punya captive market yang unik: santri, wali santri, dan masyarakat sekitar. Tetapi apakah cukup berhenti di sana? Bagaimana jika jaringan alumni dan komunitas muslim di luar pesantren juga bisa menjadi target pelanggan? Pertanyaan ini membuka cakrawala baru tentang siapa yang sebenarnya dilayani koperasi.
2. Masalah Apa yang Mereka Hadapi? (Problem)
Setiap pelanggan membawa masalah yang nyata.
Perajin tempe yang menjadi pelanggan PRIMKOPTI HANDAYANI sering kesulitan menghadapi fluktuasi harga kedelai impor. Bagi mereka, masalah utama bukan sekadar stok kedelai, tapi ketidakpastian yang membuat usaha sulit direncanakan.
Di Koperasi KONI, masalah yang dihadapi masyarakat bukan hanya soal mencari perlengkapan olahraga, tetapi juga kurangnya akses ke program kebugaran yang terpercaya, terjangkau, dan menyenangkan. Banyak orang ingin hidup sehat, tetapi mereka bingung harus mulai dari mana, atau merasa mahal untuk berlangganan gym.
Sedangkan di KOPPONTREN MASHITOH, wali santri kerap menghadapi dilema: mereka ingin memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan produk yang halal, terjangkau, dan bisa sekaligus mendukung pesantren. Namun kenyataannya, toko pesantren kadang belum menyediakan variasi produk atau sistem pelayanan yang efisien.
3. Bagaimana Solusinya? (Solution)
Di sinilah koperasi harus menemukan “kunci jawaban.”
PRIMKOPTI HANDAYANI bisa menghadirkan solusi berupa sistem distribusi kedelai yang transparan, dengan manajemen stok yang rapi sehingga perajin tempe mendapatkan pasokan stabil. Bahkan, mereka bisa menambah layanan edukasi atau inovasi produk turunan kedelai yang memberi nilai tambah lebih tinggi.
Koperasi KONI Salatiga bisa menawarkan solusi berupa ekosistem sportpreneurship: bukan hanya menjual kaos, tetapi menyediakan pengalaman olahraga. Misalnya, kelas kebugaran rutin, event olahraga komunitas, hingga paket olahraga keluarga. Dengan begitu, koperasi bukan sekadar toko, tetapi pusat aktivitas.
KOPPONTREN MASHITOH bisa melahirkan solusi berupa ekosistem toko pesantren modern—sistem belanja yang mudah, stok yang lengkap, bahkan platform digital sederhana untuk memesan kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, loyalitas anggota bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
4. Apa Nilai Utamanya? (Value Proposition)
Produk tanpa nilai hanyalah barang. Yang membuat orang membeli adalah nilai yang mereka rasakan.
PRIMKOPTI HANDAYANI tidak hanya menjual kedelai, tetapi menjual rasa aman dan kepastian bagi perajin tempe.
Koperasi KONI tidak sekadar menjual merchandise olahraga, tetapi menjual kebanggaan dan pengalaman menjadi bagian dari komunitas sportpreneurship.
KOPPONTREN MASHITOH tidak hanya menjual produk kebutuhan sehari-hari, tetapi menjual keyakinan halal, kebersamaan, dan kontribusi nyata pada keberlangsungan pesantren.
Inilah nilai yang membedakan koperasi dengan kompetitor besar atau marketplace raksasa.
5. Bagaimana Uang Mengalir? (Revenue & Cost Structure)
Koperasi tidak bisa hidup dari idealisme semata. Mereka perlu peta arus pendapatan dan biaya yang jelas.
PRIMKOPTI HANDAYANI harus memastikan pendapatan bukan hanya dari penjualan kedelai, tetapi juga dari layanan tambahan—misalnya pengolahan kedelai lokal atau kemitraan dengan produsen makanan.
Koperasi KONI bisa membangun revenue streams dari penjualan merchandise, biaya keanggotaan event olahraga, hingga sponsorship.
KOPPONTREN MASHITOH bisa memperoleh pendapatan dari toko pesantren, layanan katering, hingga kerjasama dengan supplier produk halal.
Di sisi biaya, semuanya harus cerdas menekan pengeluaran yang tidak efisien, agar koperasi tidak terbebani dan tetap bisa memberi manfaat nyata bagi anggota.
Lean Canvas: Peta Jalan Otak Bisnis
Semua pertanyaan ini sering terasa rumit jika hanya dibicarakan. Tetapi melalui Lean Canvas, koperasi bisa mengurai kompleksitas itu menjadi peta visual yang sederhana. Setiap kotak dalam Lean Canvas memaksa koperasi untuk berpikir strategis: siapa pelanggan, apa masalah, bagaimana solusi, apa nilai, dari mana uang masuk, ke mana uang keluar.
Hasilnya? Economic engine bukan lagi sekadar ide abstrak, tetapi benar-benar bekerja sebagai otak bisnis koperasi.
Dan ketika PRIMKOPTI HANDAYANI, KOPERASI KONI, serta KOPPONTREN MASHITOH mulai menyusun kanvas mereka, mereka sebenarnya sedang membangun “mesin penggerak” yang akan membawa koperasi keluar dari jebakan produk semata, menuju koperasi yang punya arah, kekuatan, dan keunggulan bersaing.
Value Chain – Rantai Penggerak Nilai
Mesin (economic engine) bisa sehebat apapun, tapi jika tidak tersambung ke roda yang benar, ia tetap diam. Value chain adalah “jalan raya” yang menyalurkan energi mesin itu menjadi gerakan nyata, mengantarkan nilai dari koperasi ke konsumen. Tanpa jalan ini, semua strategi, rencana, dan potensi hanya akan menjadi ide di atas kertas.
Dalam konteks PRIMKOPTI HANDAYANI Salatiga, Koperasi KONI Salatiga, dan KOPPONTREN MASHITOH Salatiga, value chain menjadi peta perjalanan nilai—dari hulu hingga hilir—yang menentukan apakah koperasi hanya bertahan atau benar-benar menang di pasar.
1. Hulu – Sumber Nilai dari Anggota
Segala sesuatu dimulai dari anggota. Mereka adalah bahan baku kehidupan koperasi, sekaligus modal sosial yang memberi napas organisasi.
- PRIMKOPTI HANDAYANI: petani kedelai adalah hulu utama. Kualitas dan kontinuitas kedelai bergantung pada keterlibatan dan komitmen mereka. Tanpa hubungan yang baik, stok tidak stabil, kualitas turun, dan perajin tempe bisa kehilangan kepercayaan.
- KOPERASI KONI Salatiga: anggota klub olahraga menyediakan energi dan kapasitas sosial. Mereka bukan sekadar peserta, tetapi juga brand ambassador. Kegiatan anggota yang aktif menciptakan ekosistem yang hidup.
- KOPPONTREN MASHITOH: santri dan wali santri adalah hulu yang unik. Mereka menyediakan modal sosial dan pasar internal yang captive, yang menjadi fondasi agar produk dan layanan koperasi bisa bergerak dengan stabil.
2. Proses – Membentuk Nilai (Value Creation)
Hulu yang kuat tidak cukup. Koperasi harus mampu menambahkan nilai melalui proses yang terstruktur: pengolahan, pengemasan, inovasi, dan standar kualitas.
- PRIMKOPTI HANDAYANI: kedelai tidak hanya dijual mentah. Koperasi bisa menyediakan paket distribusi siap pakai untuk perajin tempe, atau produk olahan dengan kualitas premium. Proses ini mengubah bahan baku biasa menjadi nilai yang dibayar pelanggan.
- KOPERASI KONI Salatiga: bukan sekadar menjual kaos atau alat olahraga. Prosesnya termasuk mengemas pengalaman olahraga: kelas terjadwal, event komunitas, dan merchandise eksklusif. Setiap interaksi menambah nilai bagi anggota dan peserta.
- KOPPONTREN MASHITOH: toko pesantren modern bukan hanya menampilkan produk, tapi juga memberikan layanan praktis—pre-order, paket bulanan, dan sistem pembayaran yang mudah. Proses ini membuat setiap transaksi menjadi pengalaman yang bernilai.
3. Distribusi – Mengantarkan Nilai
Nilai hanya berarti jika sampai ke tangan yang tepat, pada waktu yang tepat, melalui jalur yang tepat.
- PRIMKOPTI HANDAYANI: distribusi kedelai melalui agen lokal, delivery rutin, dan grup komunitas memastikan perajin tempe menerima pasokan tanpa jeda.
- KOPERASI KONI Salatiga: kelas olahraga, event komunitas, dan merchandise hadir melalui kombinasi offline (lokasi klub, sekolah) dan online (media sosial, registrasi digital), menjangkau audiens lebih luas.
- KOPPONTREN MASHITOH: toko fisik, pre-order via WhatsApp, dan paket langganan memungkinkan santri dan wali santri memperoleh produk dengan mudah, cepat, dan nyaman.
4. Hilir – Konsumsi dan Loyalitas
Hasil kerja akan sia-sia jika konsumen tidak puas. Hilir adalah titik di mana nilai terasa, pengalaman dikonfirmasi, dan loyalitas terbentuk.
- PRIMKOPTI HANDAYANI: perajin tempe merasakan kepastian produksi, kualitas stabil, dan harga yang transparan → kepercayaan tumbuh → mereka kembali membeli.
- KOPERASI KONI Salatiga: peserta merasakan pengalaman olahraga yang menyenangkan dan komunitas yang hangat → mereka terus ikut kelas dan event → reputasi koperasi meningkat.
- KOPPONTREN MASHITOH: santri dan wali merasakan kenyamanan belanja, produk halal, dan kontribusi pada pesantren → mereka loyal → ekosistem ekonomi pesantren semakin kuat.
5. Menguatkan Setiap Titik
Setiap titik dalam rantai harus diperkuat, karena kelemahan satu titik bisa meruntuhkan seluruh sistem:
- Pengadaan lemah → stok tidak konsisten → pelanggan kecewa.
- Proses lambat → kualitas tidak terjaga → pasar pindah ke pesaing.
- Distribusi terbatas → produk tidak terlihat → peluang hilang.
- Hilir tidak memuaskan → loyalitas tidak terbentuk → pertumbuhan terhambat.
Value chain bukan sekadar diagram. Ini adalah disiplin operasional, peta strategis yang memastikan mesin (economic engine) bergerak lancar, dan nilai yang dihasilkan koperasi benar-benar dirasakan oleh pelanggan.
Dengan membangun dan menjaga rantai nilai ini, PRIMKOPTI HANDAYANI menjadi penggerak stabilitas pangan kedelai, KOPERASI KONI menjadi pusat sportpreneurship yang hidup, dan KOPPONTREN MASHITOH menjadi ekosistem ekonomi pesantren yang tangguh dan berkelanjutan.
Transformasi – Dari Penonton Menjadi Pemain
Tahap ini bukan sekadar teori—ini adalah momen perubahan bagi koperasi: saat semangat komunitas bertemu strategi yang konkret. Banyak koperasi, terutama yang baru mulai, merasa seperti penonton di pasar: mereka hadir, menatap kompetisi, menyaksikan harga banting dan tren berganti, tetapi bergerak pasif. Produk ada, anggota ada, modal sosial ada—tapi pasar berjalan tanpa mereka benar-benar terlibat.
Di sinilah economic engine dan value chain memainkan peran kunci.
PRIMKOPTI HANDAYANI Salatiga – Dari Petani Kedelai ke Motor Stabilitas Pangan
Sebelumnya, PRIMKOPTI HANDAYANI hanya mengandalkan kedelai dan jaringan petani. Pasar kedelai dan kebutuhan perajin tempe berjalan sendiri, sementara koperasi menunggu permintaan datang.
Dengan economic engine, PRIMKOPTI HANDAYANI kini tahu siapa pelanggan inti: perajin tempe skala mikro dan pedagang tahu-tempe lokal. Mereka mengerti masalah utama: fluktuasi harga dan pasokan yang tidak pasti. Solusi konkret hadir: sistem subscription kedelai bulanan, gudang konsolidasi, pengiriman terjadwal.
Dengan value chain yang solid, kedelai tidak hanya tersedia, tapi sampai ke tangan perajin tepat waktu, berkualitas, dan dengan harga yang terprediksi. Kini PRIMKOPTI HANDAYANI bukan lagi menunggu permintaan—mereka menggerakkan pasar, memastikan produksi tempe stabil, anggota bahagia, dan pelanggan loyal. Mereka telah berubah menjadi motor penggerak stabilitas pangan kedelai di Salatiga.
Koperasi KONI Salatiga – Dari Klub Olahraga ke Pusat Sportpreneurship
Sebelumnya, KOPERASI KONI hanyalah “tempat olahraga”: ada anggota, ada fasilitas, tapi kegiatan bersifat sporadis. Kompetisi harga merchandise dan kelas kebugaran di pasar membuat mereka seperti penonton di arena yang ramai.
Economic engine membuat KOPERASI KONI memahami siapa yang harus dilayani: ibu bekerja, komunitas olahraga, sekolah, bahkan keluarga yang ingin gaya hidup sehat. Masalah mereka jelas: sulitnya akses program olahraga yang berkualitas, terjangkau, dan berkelanjutan. Solusi muncul: program 6-minggu “Kebugaran untuk Ibu”, event komunitas berbayar, dan merchandise bundling.
Dengan value chain yang kokoh, peserta mendapatkan pengalaman olahraga yang menyenangkan, kelas berjalan lancar, merchandise dikirim tepat waktu, dan komunitas berkembang. KOPERASI KONI kini bukan sekadar penyedia fasilitas, tetapi pemain aktif yang memimpin ekosistem sportpreneurship lokal.
KOPPONTREN MASHITOH Salatiga – Dari Pasar Pesantren ke Ekosistem Ekonomi Halal
Awalnya, KOPPONTREN MASHITOH memiliki modal sosial besar: santri, wali santri, dan jaringan komunitas. Tapi sistem belanja masih tradisional, stok terbatas, dan sebagian kebutuhan anggota tetap pergi ke pasar luar. Mereka menonton peluang hilir sambil berharap anggota tetap loyal.
Economic engine membantu mengidentifikasi pelanggan utama: santri, wali, alumni, dan komunitas muslim lokal. Masalah mereka jelas: akses terbatas pada produk halal yang lengkap dan sistem pemesanan efisien. Solusi muncul: toko modern dengan pre-order via WhatsApp dan paket langganan bulanan.
Value chain memastikan produk tersedia, dipesan dengan mudah, dan sampai ke konsumen dengan cepat. Kini KOPPONTREN MASHITOH bukan lagi “penonton” pasar, tapi pemain tangguh yang membangun ekosistem ekonomi pesantren yang berkelanjutan dan terpercaya.
Kesimpulan: Mesin & Rantai Nilai yang Mengubah Peran
Kombinasi economic engine yang jelas dan value chain yang solid menghasilkan transformasi nyata:
- PRIMKOPTI HANDAYANI bergerak sebagai penggerak stabilitas pangan.
- KOPERASI KONI memimpin ekosistem sportpreneurship lokal.
- KOPPONTREN MASHITOH membangun ekosistem ekonomi pesantren yang tangguh.
Pasar boleh keras, kompetitor boleh banyak, harga boleh saling banting. Namun koperasi yang memiliki mesin ekonomi yang terarah dan rantai nilai yang kokoh tidak hanya bertahan—mereka tumbuh, berkembang, dan menang. Dari penonton pasif, mereka menjadi pemain tangguh yang percaya diri menghadapi setiap tantangan pasar.
