
Di ruang pelatihan yang sederhana namun hangat di tengah kota Salatiga, tiga koperasi peserta inkubasi kembali berkumpul. Mereka telah melewati dua tahap penting: membangun mindset pertumbuhan dan mendesain economic engine yang menjadi jantung usaha mereka.
Kini, mereka dihadapkan pada satu tantangan baru — memahami pasar.
Bukan lagi tentang “apa yang bisa kita produksi”, tetapi “siapa yang sungguh membutuhkan apa yang kita hasilkan”.
🌱 Dari Produksi ke Pemahaman Pasar
Banyak koperasi di Indonesia lahir dari semangat kebersamaan, namun sering kali berhenti di fase produksi. Mereka bisa memproduksi dengan baik, tapi lupa bertanya: apakah yang mereka hasilkan benar-benar diinginkan pasar?
Tahap Indepth Market mengubah pola pikir itu. Setiap koperasi kini harus menelusuri lebih dalam siapa yang menjadi konsumennya, bagaimana perilaku mereka, apa yang mereka rasakan, dan mengapa mereka memilih — atau tidak memilih — produk koperasi.
Seperti pepatah bisnis modern:
“Produk terbaik bukan yang paling canggih, tapi yang paling dibutuhkan.”
Tiga koperasi peserta inkubasi — KOPPONTREN MASHITOH, Koperasi KONI Salatiga, dan PRIMKOPTI Salatiga — kini memulai perjalanan penting ini. Masing-masing membawa mesin ekonomi berbeda, namun tujuan mereka sama: menemukan pasar yang relevan, kuat, dan berkelanjutan.
🔍 Langkah 1 – Segmentasi: Menemukan Siapa yang Dituju
🕋 KOPPONTREN MASHITOH – Ekosistem Pesantren dan Hijau
KOPPONTREN MASHITOH tumbuh dari lingkungan pesantren yang disiplin dan sarat nilai spiritual. Di balik kandang bebek dan kolam mentok yang mereka kelola, tersimpan filosofi “kemandirian yang berlandaskan keberkahan.”
Melalui model integrated farming yang mereka kembangkan — dari peternakan, pupuk organik, hingga produk turunan pangan — koperasi ini sadar bahwa mereka tidak hanya menjual telur atau daging, tetapi juga nilai keberlanjutan dan kebaikan.
Maka segmen pasar mereka pun jelas:
- Santri dan wali santri yang ingin mendukung ekosistem pesantren.
- Alumni yang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan.
- Konsumen muslim urban yang mulai sadar pentingnya produk halal, sehat, dan ramah lingkungan.
Segmen ini bukan hanya pembeli, tetapi komunitas yang memiliki kesamaan nilai.
🏃♂️ Koperasi KONI Salatiga – Komunitas Aktif dan Aspiratif
Di sisi lain, Koperasi KONI Salatiga berdiri di tengah denyut energi olahraga kota. Mereka menyaksikan bagaimana masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesehatan dan gaya hidup aktif. Namun ada kesenjangan: alat olahraga berkualitas masih mahal dan akses terhadap fasilitas latihan masih terbatas.
Di sinilah koperasi hadir sebagai solusi. Mereka menarget:
- Komunitas olahraga (klub, sekolah, kampus, pelatih).
- Pekerja muda yang ingin hidup sehat namun efisien.
- Pemerintah daerah dan lembaga yang mendukung sport tourism dan wellness.
Koperasi ini ingin menjadi lebih dari sekadar toko alat olahraga. Mereka ingin menjadi ekosistem sport wellness — tempat di mana kualitas, akses, dan edukasi berjalan bersama.
🌾 PRIMKOPTI Salatiga – Hilirisasi Kedelai, dari Petani ke UMKM
Sementara itu, PRIMKOPTI Salatiga berdiri di garis depan rantai kedelai. Selama puluhan tahun, mereka menjadi penyedia bahan baku bagi industri tahu dan tempe di Jawa Tengah. Namun kini, tantangannya berubah.
Pasar tidak lagi hanya menuntut kedelai murah, tetapi kedelai berkualitas, lokal, dan memiliki nilai tambah.
Melalui inovasi produk seperti susu kedelai, snack protein, hingga bahan olahan modern, PRIMKOPTI mulai memperluas segmennya:
- Industri pangan lokal dan UMKM kuliner.
- Konsumen urban yang mencari pangan nabati.
- Generasi muda yang tertarik pada produk lokal bernilai tinggi.
💡 Langkah 2 – Target & Insight Pasar
Memahami segmen belum cukup. Kini, setiap koperasi belajar melihat dari mata konsumen — memahami kebutuhan, keinginan, dan pain point mereka.
KOPPONTREN MASHITOH
Dari hasil diskusi dengan wali santri dan komunitas sekitar, muncul satu fakta menarik: banyak keluarga ingin mengonsumsi produk halal dan sehat, tapi tidak tahu sumber yang terpercaya.
Mereka juga peduli dengan lingkungan, namun belum menemukan produk yang benar-benar mengusung konsep zero waste dan green economy.
Insight ini menjadi fondasi besar: Konsumen tidak hanya mencari produk, tapi juga ingin menjadi bagian dari nilai kebaikan yang mereka beli.
Koperasi KONI Salatiga
Dari survei sederhana terhadap komunitas olahraga, koperasi menemukan dua tipe konsumen utama:
- Atlet dan pelatih yang memerlukan alat standar kompetisi, tetapi sulit mengaksesnya karena harga tinggi.
- Masyarakat umum yang ingin hidup sehat, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Pain point mereka bukan sekadar soal harga, tapi keterbatasan akses, edukasi, dan kualitas pengalaman olahraga.
PRIMKOPTI Salatiga
PRIMKOPTI menemukan bahwa banyak UMKM pengolah kedelai menghadapi tiga masalah klasik: fluktuasi harga, kualitas bahan baku yang tidak seragam, dan keterbatasan inovasi produk.
Sementara konsumen akhir — terutama kalangan muda — kini mulai tertarik pada produk berbasis protein nabati yang sehat dan modern.
Dari sinilah PRIMKOPTI melihat peluang: menjadi jembatan antara petani kedelai, industri kecil, dan konsumen modern yang sadar gizi.
🎯 Langkah 3 – Menyusun Nilai dan Posisi (Value Proposition)
Setiap koperasi kini memiliki bahan bakar baru untuk memperkuat value proposition mereka.
🌱 KOPPONTREN MASHITOH:
“Solusi pangan berkelanjutan berbasis pesantren — halal, sehat, dan ramah lingkungan.”
Produk mereka tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga menenangkan hati karena dihasilkan dari sistem integrated farming yang memberdayakan santri dan masyarakat sekitar.
🏋️ Koperasi KONI Salatiga:
“Pusat sport wellness yang menghadirkan akses, edukasi, dan kualitas untuk semua kalangan.”
Mereka tidak hanya menjual alat, tapi menciptakan ruang kolaborasi — tempat di mana olahraga menjadi gaya hidup, bukan sekadar aktivitas.
🌾 PRIMKOPTI Salatiga:
“Penyedia kedelai bernilai tambah — dari petani lokal untuk pasar modern.”
Melalui inovasi dan hilirisasi, PRIMKOPTI mengangkat martabat petani sekaligus menjawab kebutuhan pasar urban yang semakin cerdas.
⚙️ Langkah 4 – Menautkan Market Insight ke Economic Engine
Inilah momen di mana teori berpadu dengan strategi. Setiap insight pasar kini dihubungkan langsung dengan mesin ekonomi koperasi.
- KOPPONTREN MASHITOH mengubah insight tentang kebutuhan produk halal dan hijau menjadi program Pesantren EcoFarm — yang mengintegrasikan peternakan, pengolahan limbah, dan pemasaran langsung ke komunitas alumni. Nilai ekonomi bertambah, dan pesantren menjadi mandiri.
- Koperasi KONI Salatiga merancang Sport Ecosystem Model: unit penyedia alat olahraga, pelatihan personal, dan even sport tourism yang memperkuat arus ekonomi sekaligus meningkatkan brand lokal.
- PRIMKOPTI membangun Value Chain Kedelai Cerdas, di mana kedelai mentah tidak lagi berhenti di bahan baku, tetapi diolah menjadi produk siap jual dengan branding dan inovasi rasa.
Mereka kini memahami bahwa pasar bukan sekadar tujuan akhir, tapi kompas yang mengarahkan seluruh mesin ekonomi.
🚀 Pasar Sebagai Arah Mesin Ekonomi
Tahap Indepth Market telah membuka mata banyak pihak. Bahwa keberhasilan koperasi bukan diukur dari seberapa banyak mereka memproduksi, tetapi seberapa dalam mereka memahami siapa yang mereka layani.
KOPPONTREN MASHITOH kini melihat bahwa keberlanjutan bisa menjadi nilai jual utama.
Koperasi KONI Salatiga memahami bahwa gaya hidup sehat adalah pasar yang terus tumbuh.
PRIMKOPTI Salatiga menyadari bahwa inovasi produk lokal adalah kunci melawan dominasi impor.
Dari ruang pelatihan kecil itu, tiga koperasi belajar satu pelajaran besar:
“Pasar bukan musuh, tapi sahabat yang memberi arah.”
Mereka tidak lagi berlari tanpa peta.
Mereka kini tahu ke mana roda mesin ekonominya harus berputar — menuju konsumen yang nyata, kebutuhan yang relevan, dan masa depan yang berkelanjutan.
📘 Inilah inti dari Tahap 3 Inkubasi Koperasi: Membedah pasar bukan untuk menjual lebih banyak, tetapi untuk melayani dengan lebih tepat. Karena ketika koperasi memahami pasarnya, mereka tidak hanya bertahan — mereka tumbuh menjadi pemain sejati dalam ekosistem ekonomi yang terus bergerak.
