
Di tengah dinamika organisasi tahun 2025 yang semakin kompleks, isu employee engagement tidak lagi sekadar membahas kepuasan kerja. Konsep ini telah berkembang menjadi indikator utama kesehatan organisasi yang berpengaruh langsung terhadap produktivitas, retensi, dan keunggulan bersaing. Salah satu pendekatan yang terbukti mampu meningkatkan keterlibatan karyawan secara signifikan adalah pelatihan atau program training yang terstruktur, relevan, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.
Untuk memahami secara menyeluruh bagaimana pelatihan berperan dalam meningkatkan engagement, penting terlebih dahulu mengenal konsep engagement secara mendalam, termasuk asal-usul, makna strategis, serta penerapan yang efektif di lingkungan kerja modern.
Makna Employee Engagement dalam Konteks Organisasi
Istilah employee engagement diperkenalkan pertama kali oleh William Kahn pada tahun 1990 melalui artikelnya yang berjudul Psychological Conditions of Personal Engagement and Disengagement at Work. Dalam riset tersebut, Kahn menjelaskan bahwa engagement terjadi ketika individu secara psikologis hadir sepenuhnya dalam peran kerjanya, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Engagement bukan sekadar loyalitas, juga bukan hanya kepuasan kerja, tetapi keterlibatan aktif yang melahirkan kontribusi sukarela dan penuh semangat terhadap tujuan organisasi.
Organisasi seperti Gallup telah melakukan riset selama lebih dari dua dekade dan menemukan bahwa tim dengan tingkat engagement tinggi menunjukkan produktivitas 21 persen lebih besar, absensi yang 41 persen lebih rendah, serta penurunan turnover hingga 59 persen. Data ini menunjukkan bahwa engagement bukan sekadar agenda personalia, tetapi juga investasi strategis yang berdampak nyata pada kinerja bisnis.
Mengapa Pelatihan Menjadi Faktor Kunci Engagement?
Pelatihan memiliki peran yang lebih luas dari sekadar meningkatkan keterampilan teknis. Dalam kerangka engagement, pelatihan memberikan empat kontribusi utama:
- Mencerminkan Komitmen Organisasi terhadap Pertumbuhan Individu
Ketika organisasi menyediakan akses pelatihan yang berkualitas, karyawan merasa dihargai dan diakui. Ini membangun rasa memiliki dan kepercayaan jangka panjang terhadap perusahaan. - Membangun Rasa Tujuan dan Makna dalam Bekerja
Pelatihan yang dirancang secara strategis sering kali membantu karyawan memahami kaitan antara tugas harian mereka dengan tujuan besar organisasi. Hal ini menciptakan rasa kontribusi yang bermakna. - Meningkatkan Rasa Kompetensi dan Autonomi
Berdasarkan teori Self-Determination yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan, engagement tinggi muncul saat individu merasa kompeten dan memiliki kendali atas perkembangan dirinya. Pelatihan yang efektif menyediakan ruang untuk pencapaian tersebut. - Mendorong Interaksi Sosial yang Konstruktif
Program pelatihan yang dirancang secara kolaboratif membuka ruang untuk pertukaran ide dan membangun koneksi antarkaryawan, yang pada akhirnya memperkuat engagement secara emosional.
Strategi Pelatihan yang Berdampak terhadap Engagement
Tidak semua pelatihan menghasilkan dampak yang sama. Beberapa organisasi telah menunjukkan keberhasilan dengan mengadopsi pendekatan pelatihan yang lebih strategis dan berorientasi pada nilai. Di antaranya:
1. Personalisasi Berdasarkan Jalur Karier
Perusahaan seperti SAP dan Nestlé telah mengembangkan sistem pembelajaran berbasis karier, di mana pelatihan disesuaikan dengan tujuan pengembangan jangka panjang setiap individu. Ini tidak hanya meningkatkan kompetensi, tetapi juga memperjelas arah kontribusi setiap talenta terhadap organisasi.
2. Fokus pada Soft Skills dan Keamanan Psikologis
Google, melalui temuan riset internal “Project Aristotle”, menyimpulkan bahwa tim paling efektif adalah yang memiliki tingkat psychological safety tinggi. Untuk mendukung hal ini, perusahaan mengembangkan pelatihan interpersonal seperti komunikasi lintas fungsi, empati, dan kemampuan beradaptasi dalam dinamika tim.
3. Integrasi Microlearning dan Refleksi Harian
Model pembelajaran yang fleksibel dan tidak mengganggu pekerjaan harian menjadi pilihan utama di era digital. Unilever menerapkan pendekatan microlearning, di mana karyawan mengakses materi pembelajaran dalam durasi singkat dengan frekuensi rutin. Refleksi harian juga dijadikan bagian dari pembelajaran aktif.
4. Pelatihan dalam Konteks Proyek Nyata
Salesforce mendorong pelatihan berbasis proyek, di mana pembelajaran berlangsung dalam rangkaian kegiatan kerja nyata. Pendekatan ini meningkatkan relevansi pelatihan sekaligus memperkuat rasa kontribusi dan pencapaian tim.
Dampak Nyata dari Pelatihan terhadap Engagement
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan yang dirancang dengan mempertimbangkan engagement memberikan dampak nyata. Deloitte melaporkan bahwa organisasi dengan sistem pelatihan yang matang memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar untuk berada di kuartil teratas indeks keterlibatan karyawan.
Gallup menemukan bahwa organisasi yang mengintegrasikan pelatihan dengan strategi bisnis mengalami peningkatan keterlibatan hingga 70 persen lebih tinggi dibandingkan organisasi lain dalam industri serupa.
Studi internal dari Microsoft juga mencatat bahwa pelatihan soft skill yang diberikan secara berkala berhasil menurunkan tingkat burnout sebesar 28 persen serta meningkatkan retensi karyawan kunci hingga 33 persen dalam satu tahun.
Kesimpulan: Pelatihan sebagai Pilar Strategis Engagement Karyawan
Keterlibatan karyawan tidak terjadi secara kebetulan. Ia perlu dirancang melalui pengalaman kerja yang bermakna, kesempatan berkembang, serta kejelasan kontribusi terhadap tujuan besar organisasi. Pelatihan, dalam kerangka ini, berperan sebagai fondasi yang tidak hanya meningkatkan keterampilan tetapi juga memperkuat hubungan emosional dan kognitif karyawan terhadap perusahaan.
Organisasi yang ingin unggul di tahun 2025 perlu menjadikan pelatihan sebagai bagian inti dari strategi engagement. Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan bukan hanya mendukung keberhasilan individu, melainkan juga menjadi katalisator bagi pertumbuhan organisasi secara keseluruhan.
Referensi
- Kahn, W. A. (1990). Psychological Conditions of Personal Engagement and Disengagement at Work. Academy of Management Journal, 33(4), 692–724.
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
- Gallup (2023). State of the Global Workplace Report.
- Deloitte Insights (2024). Human Capital Trends: Learning in the Flow of Work.
- Harvard Business Review (2022). The Neuroscience of Trust by Paul J. Zak.
- Bersin by Deloitte (2024). High-Impact Learning Organizations: The Business Case for Learning.
- McKinsey & Company (2023). Building Capabilities for Performance: The Training Impact Imperative.
