Learning Agility sebagai Kompetensi Kunci 2025: Analisis Dampaknya terhadap Kesuksesan Organisasi di Era Disrupsi

Dalam lanskap bisnis global yang semakin dinamis dan tidak terprediksi, organisasi dituntut untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga berevolusi secara cepat. Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam mempertahankan daya saing di tengah disrupsi teknologi, perubahan pasar yang volatil, serta tekanan sosial dan regulatif. Di tengah tantangan tersebut, satu kompetensi muncul sebagai penentu keberhasilan organisasi masa kini: Learning Agility.

Fondasi Teoritis: Apa Itu Learning Agility?

Learning Agility, menurut penelitian dari DeRue, Ashford, dan Myers (2012), didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk belajar dari pengalaman dan secara efektif menerapkan pembelajaran tersebut dalam situasi baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Konsep ini diperkuat oleh Center for Creative Leadership (CCL), yang mengidentifikasi Learning Agility sebagai indikator utama kepemimpinan masa depan dan kesuksesan dalam peran-peran strategis yang kompleks.

Lebih jauh, Eichinger dan Lombardo dalam kerangka Leadership Architect® menyebutkan bahwa Learning Agility adalah karakteristik yang membedakan talenta masa depan dari talenta masa lalu—di mana kelincahan dalam belajar kini lebih penting daripada pengalaman masa lalu semata.

Praktik di Dunia Nyata: Penerapan dalam Perusahaan Terkemuka

Beberapa organisasi terdepan telah mengadopsi pendekatan sistematis dalam membangun Learning Agility, baik dalam proses rekrutmen, pengembangan kepemimpinan, hingga penilaian potensi SDM.

Unilever, misalnya, telah menerapkan pendekatan berbasis agility dalam proses talent review global mereka. Calon pemimpin tidak lagi hanya dinilai berdasarkan pencapaian historis, melainkan dari seberapa cepat mereka dapat belajar, menyesuaikan diri, dan memberikan dampak dalam konteks yang berubah. Program akselerasi kepemimpinan mereka menekankan rotasi lintas fungsi dan eksposur terhadap masalah bisnis nyata di berbagai negara untuk mengasah kelincahan belajar.

Sementara itu, DBS Bank di Singapura memperkenalkan learning sprints dan internal innovation labs untuk membentuk budaya pembelajaran berkelanjutan. Hasilnya, DBS tidak hanya memenangkan penghargaan sebagai “World’s Best Digital Bank” versi Euromoney, tetapi juga mencatat peningkatan employee engagement dan kepuasan pelanggan secara signifikan selama masa perubahan besar-besaran di industri perbankan.

Dampak Strategis: Manfaat Langsung bagi Organisasi

Organisasi yang menanamkan Learning Agility dalam DNA-nya mendapatkan keunggulan kompetitif yang konkret. Sebuah laporan dari Korn Ferry (2024) menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat Learning Agility tinggi pada jajaran kepemimpinan memiliki kemungkinan 5x lebih besar untuk berada di kuartil teratas dalam kinerja keuangan jangka panjang.

Learning Agility juga berkontribusi pada peningkatan resiliensi organisasi, kecepatan pengambilan keputusan, serta efektivitas perubahan strategis. Di tengah transformasi digital, perusahaan dengan SDM yang agile dalam belajar terbukti lebih mampu berinovasi dan bertahan dalam krisis—baik pandemi global, tekanan geopolitik, maupun gejolak pasar.

Dari sisi individu, talenta dengan Learning Agility tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk dipromosikan, lebih cepat beradaptasi di peran baru, dan menjadi agen perubahan yang efektif dalam tim lintas disiplin.

Rekomendasi Strategis: Membangun Budaya Learning Agility

Meningkatkan Learning Agility tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan pelatihan atau e-learning. Dibutuhkan pendekatan sistemik yang mencakup aspek berikut:

  1. Rotasi dan Eksposur Lintas Fungsi
    Dorong pengalaman di luar zona nyaman untuk memicu pembelajaran kontekstual.
  2. Coaching dan Mentorship Adaptif
    Fasilitasi pembimbingan yang tidak hanya menekankan hasil, tetapi juga proses reflektif dan eksperimentasi.
  3. Desain Ulang Proses Penilaian Karyawan
    Sertakan indikator Learning Agility dalam performance appraisal dan succession planning.
  4. Fasilitasi Budaya Umpan Balik Terbuka
    Bangun lingkungan di mana eksperimen dan kegagalan menjadi bagian dari proses pembelajaran.
  5. Percepat Siklus Pembelajaran Melalui Proyek Riil
    Implementasikan learning-by-doing berbasis masalah nyata yang multidisiplin.

Kesimpulan

Di era disrupsi yang semakin tidak menentu, Learning Agility bukan sekadar keunggulan tambahan, melainkan fondasi utama dalam membentuk organisasi yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan. Kompetensi ini memungkinkan perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dengan gesit menghadapi kompleksitas global. Para eksekutif dan pemimpin organisasi perlu menjadikan pengembangan Learning Agility sebagai bagian strategis dari transformasi SDM dan budaya organisasi secara menyeluruh.

Masa depan dimiliki oleh mereka yang mampu belajar lebih cepat daripada kecepatan perubahan itu sendiri.

Referensi

  1. DeRue, D. S., Ashford, S. J., & Myers, C. G. (2012). Learning Agility: In Search of Conceptual Clarity and Theoretical Grounding. Industrial and Organizational Psychology Journal.
  2. Lombardo, M. M., & Eichinger, R. W. (2000). High Potentials as High Learners. Korn Ferry Institute.
  3. Center for Creative Leadership (CCL). (2023). The Role of Learning Agility in Leadership Success.
  4. Korn Ferry. (2024). The Agile Advantage: Unlocking Business Performance through Learning Agility.
  5. Euromoney. (2023). World’s Best Digital Bank: DBS Bank.
  6. Bersin by Deloitte. (2024). Elevating Learning Agility: Critical Capabilities for Disruption-Ready Organizations.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *